Kesuksesan Adalah Milikku. Aku Akan Mendapatkanmu Walau Kemanapun Itu. Akan Kukejar Kamu Sampai Kemanapun Itu. Karena Kesuksesan Adalah Hak ku.

Kesulitan Belajar

BAB I
File (PDF)
 
OBSERVASI ANAK BERKESULITAN BELAJAR
(LEARNING DISABILITY)

Makalah Laporan Observasi Ini Disusun Sebagai Tugas Akhir
Mata Kuliah “KESULITAN BELAJAR”
Dosen Pengampu :
Imron Muzakki, M.Psi
Disusun Oleh
MOCHAMAD BADRUSALIM
(NIM : 9321 052 08)

JURUSAN TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) KEDIRI
2010
BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Aktifitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat, terkadang semangatnya tinggi, tetapi juga sulit untuk mengadakan konsentrasi.
Demikian kenyataan yang sering kita jumpai pada setiap anak didik dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan aktifitas belajar. Setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individu ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku dikalangan anak didik. Dalam keadaan di mana anak didik / siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan kesulitan belajar.
Kesulitan belajar merupakan kekurangan yang tidak nampak secara lahiriah. Ketidak mampuan dalam belajar tidak dapat dikenali dalam wujud fisik yang berbeda dengan orang yang tidak mengalami masalah kesulitan belajar. Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena factor intelligensi yang rendah (kelaianan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan karena faktor lain di luar intelligensi. Dengan demikian, IQ yang tingi belum tentu menjamin keberhasilan belajar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu kondisi proses belajar yang ditandai hambatan-hambatan tertentu dalam mencapai hasil belajar.1

  1. Rumusan Masalah
  1. Bagaimana pengertian kesulitan belajar ?
  2. Bagaimana cara mengidentifikasi anak berkesulitan belajar?
  3. Apa saja ciri-ciri anak berkesulitan belajar?
  4. Bagaiamana kurikulum yang harus diterapkan bagi anak berkesulitan belajar?

BAB II
PEMBAHASAN

  1. Identitas Subyek Observasi
Nama : Ahmad Soni
Alamat : RT 02 RW 09 Dsn Tegal Arum, Ds Ngronggo, Kec Kota,
Kota Kediri
Kelas : I SD
Sekolah : SDN Ngronggo VIII
Agama : Islam
Orang Tua : Salamun
Komsiyah
Anak ke- : Pertama dari dua bersaudara
Pekerjaan orang tua : Wiraswasta (Pedagang)

  1. Obsevasi dan test
Observasi dan tes terhadap subyek ini dilaksanakan pada :
Hari : Kamis
Tanggal : 2 Desember 2010,
Pukul : 17.00 WIB sampai dengan selesai, waktu setelah usai TPQ.
Temapat : Mushola / TPQ At-Tanwir Dsn Tegal Arum, Ds Ngronggo, Kec Kota,
Kota Kediri

  1. Disleksia (Kesulitan belajar membaca)
  1. Pengertian
Disleksia atau kesulitan mambaca berasal dari bahasa Yunani, dys artinya sulit dan lexia artinya tulisan. Ada nama-nama yang merujuk kesulitan belajar membaca yakni corrective readers dan remedial readers, sedangkan kesulitan belajar membaca berat sering disebut aleksia (alexia).2
Menurut Mercer ada empat kelompok karakteristik kesulitan belajar membaca yaitu berkenaan dengan3 :
  • Kebiasaan membaca
  • Kekeliruan mengenal kata
  • Kekeliruan pemahaman
  • Gejala-gejala serbaneka
Anak berkesulitan belajar membaca sering mengalami kekeliruan dalam mengenal kata, kekeliruan ini mencakup penghilangan, penyisipan, penggantian, pembalikan, salah ucap, pengubahan tempat, tidak mengenal kata dan tersendat-sendat.4
Dari keterangan tersebut diatas dapat dirinci lebih jelas indikator-indikator anak berkesulitan belajar membaca dengan kesalahan-kesalahan membaca, yaitu :
  1. Penghilangan kata atau huruf
  2. Penyelipan atau penambahan kata
  3. Penggantian kata
  4. Pengucapan kata salah dan makna beda
  5. Pengucapan kata salah tetapi makna sama
  6. Pengucapan kata salah dan tidak bermakna
  7. Pengucapan kata dengan bantuan guru
  8. Pengulangan
  9. Pembalikan kata
  10. Pembalikan huruf
  11. Kurang memperhatikan tanda baca
  12. Pembetulan sendiri
  13. Ragu-ragu
  14. Tersendat-sendat
  1. Test terhadap subyek
Teks :
Karena ayahnya tidak mau mengikuti ajakannya ia hanya berkata : ”Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu pada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik padaku. Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Dan aku akan berdo’a kepada Tuhanku. Mudah-mudahan aku tidak kecewa dengan berdo’a kepada Tuhanku.”
Gambar 1
  1. Hasil Test
Karena ayahnya tidak mau mengikuti ajakannya ia hanya berkata : ”Semoga keselamatan dilimpahkan kepada (1. kepadamu), aku akan pemintakan (2. memintakan) ampun bagiku (3. bagimu) pada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik padaku. Dan aku akan menjauhkan diri dari padaku (4. padamu) dan deri (5. dari) apa yang kamu sembah selain Allah. Dan aku akan berdo’a kepada Tuhanku. Mudah-mudahan aku tidak kecewa dengan berdo’a kepada Tuhanku”
  1. Analisis kesalahan
  1. Terjadi pengurangan suku kata “mu” pada kata “kepadamu” hanya dibaca “kepada”.
  2. Kesalahan pembacaan huruf “m” menjadi “p”, apada kata “memintakan” dibaca menjadi “pemintakan”.
  3. Kesalahan pembacaan huruf atau suku kata “mu” dibaca “ku”, pada kata “bagimu” dibaca “bagiku”.
  4. Kesalahan pembacaan huruf atau suku kata “mu” dibaca “ku”, pada kata “padamu” dibaca menjadi “padaku”,
  5. Kesalahan menbaca huruf “a” dibaca “e”, pada kata “dari” dibaca menjadi “deri”.
  6. Kurang memperhatikan tanda baca.
  7. Agak kurang lancar dalam mebaca.
Untuk mengidentifikasi disleksia, lebih lanjut perlu di cek kesalahan-kesalahan tersebut dalam table berikut5 :
No.
Jenis Kesalahan
Cek
Ket
1.

2.

3.

4.
5.

6.
7.

8.

9.

10.

11.

12.


13.


14.

15.

16.


17.


18.


19.

20.

21.

22.

23.


24.

25.
Tidak dapat melafalkan semua huruf vokal (a, i, u, e, o)
Tidak dapat melafalkan beberapa huruf vocal
Tidak dapat melafalkan semua huruf konsonan (b, c, d, f…dst)
Tidak dapat melafalkan beberapa huruf konsonan
Tidak dapat melafalkan huruf diftong (ny, ng)
Tidak dapat melafalkan gabungan huruf konsonan-vokal (ba, pa…dst)
Tidak dapat melafalkan gabungan huruf diftong-vokal (nya, ngu…dst)
Tidak dapat melafalkan vokal rangkap (ia, oi, ua..dst)
Tidak dapat melafalkan gabungan konsonan-vokal-konsonan (ba-pak, ka-pal..dst)
Tidak dapat melafalkan gabungan vokal-konsonan (as-pal, ir-ma..dst)
Tidak dapat membedakan huruf yang bentuknya hampir sama (b-d, p-q, m-n-u-w)
Penghilangan huruf atau kata (“Bunga mawar itu merah” daibaca “Bunga itu merah”)
Penyisipan kata (“Rumah paman di Semarang” dibaca “Rumah paman ada di Semarang”)
Penggantian kata, makna tetap (“Ayah menulis surat” dibaca “Bapak menulis surat”)
Penggantian kata, makna berbeda (“Itu kucing Ali” dibaca “Itu kacang Ali”)
Pengucapan kata yang salah, makna sama (“Hati saya senang” dibaca “Hati saya seneng”)
Pengucapan kata yang salah, tidak bermakna (“Mama beli nanas” dibaca “Mama beli nenas”)
Pengucapan kata dengan bantuan guru (“Kuda itu lari kencang” dibaca “Kuda itu lari…kencang”)
Pengulangan (“Wati main bola” dibaca “Wati ma-ma-ma-ma-in bo-bo-la”)
Pembalikan kalimat, subjek, predikat, objek (“Baju saya dicuci bibi” dibaca “Baju saya bibi dicuci”)
Tidak memperhatikan tanda baca (. , ! ? dsb)
Membetulkan kesalahan sendiri (“Duku itu manis” dibaca ”Buku itu manis”, dibetulkan sendiri “Duku itu manis”)
Ragu-ragu dalam membaca (Iwan bermain layang-layang” dibaca “Iwan . . .bermain. .layang . .layang”)
Membaca tersendat-sendat (“Bu Ita guru Nani” dibaca “Bu I…tagu…gu…ru Na…na…ni”)
Tidak dapat mengurutkan susunan bacaan cerita
-

-

-
-

-
-

-

-

-


-

-



-


-


-

-




-

-

-



-




-

-





















1











2, 3, 4 dan 5





6



7

  1. Kesimpulan analisis
Dari data table diatas maka dapat disimpulkan subyek mengalami kesulitan belajar membaca pada beberapa aspek yaitu :
  • Penghilangan huruf atau kata
  • Pengucapan kata yang salah, tidak bermakna
  • Tidak memperhatikan tanda baca dan
  • Ragu-ragu dalam membaca

  1. Disgrafia (kesulitan belajar menulis)
  1. Pengertian
Disebut disgrafia jika mengalami kesulitan dalam menulis meliputi hambatan fisik, seperti tidak dapat memegang pensil dengan mantap atau tulisan tangannya buruk. Sedangkan kesulitan belajar menulis yang berat disebut huga “agrafia”. Disgrafia menunjuk pada adanya ketidakmampuan mengingat cara membuat huruf atau symbol-simbol matematika.6
Kesulitan belajar menulis sering terkait dengan cara anak memegang pensil, ada empat cara anak memegang pensil yang dijadikan sebagai petunjuk bahwa anak berkesulitan belajar menulis yakni7 :
  1. Sudut pensil terlalu besar
  2. Sudut pensil terlalu kecil
  3. Menggenggam pensil
  4. Menyangkutkan pensil ditangan atau menyeret.
Gambar8 2.
Sedangkan pembagian pada kesulitan belajar menulis ini dapat dibagi menjadi tiga kegiatan menulis, yaitu9 :
  1. Kesulitan menulis dengan tangan (menulis permulaan)
  • Menulis dari kiri ke kanan (kecuali huruf hijaiyah)
  • Memegang pensil dengan benar
  • Menulis nama panggilannya sendiri
  • Menulis huruf-huruf
  • Menyalin kata-kata dari papan tulis atau kertas
  • Menulis pada garis yang tepat
  1. Kesulitan mengeja, meliputi :
  • Pengurangan huruf
  • Mencerminkan dialek (sapi menjadi sampi)
  • Mencerminkan kesalahan ucap (namun ditulis nanum)
  • Pembalikan huruf dan kata (ibu menjadi ubi)
  • Pembalikan konsonan (air menjadi ari)
  • Pembalikan konsonan atau vokal (berjalan menjadi bejrlan)
  • Pembalikan suku kata (laba menjadi bala)
  1. Kesulitan menulis ekspresif,
  • Panjang karangan
  • Ejaan, tanda baca dan tata bahasa
  • Kematangan dan keabsahan tema
  • Bentuk tulisan tangan dan huruf
  • Panjang kalimat dan perbendaharaan kata
  • Penggunaan huruf besar dan kecil masih bercampur
  • Ada ketidak konsistenan bentuk huruf dan tulisannya.
  1. Menulis dengan melihat
Teks :
Ibrahim kemudian diperintahkan mengambil burung-burung yang sudah hancur tadi. Tiba-tiba saja burung itu hidup lagi seperti sedia kala dan menghampiri Nabi Ibrahim.
Gambar 3.
  1. Hasil test :
Teks :
ibrahim (1. Ibrahim) kemudian di perintahkan (2. diperintahkan) mengambil burung burung (3. burung-burung) yang sudah hancur tadi (4. Kurang titik [.]) tiba tiba (5.6. Tiba-tiba) saja burung itu hidup lagi (7. Salah paragraf)
seperti sedia kala dan menghampiri (8. Kurang kata “Nabi) ibrahim (9. Ibrahim)
Gambar 4.
  1. Analisis kesalahan
  1. Kesalahan penulisan huruf kapital, pada kata “Ibrahim” ditulis dengan “ibrahim”
  2. Kesalahan pemenggalan kata hubung, pada kata “diperintahkan” ditulis menjadi “di perintahkan”
  3. Kesalahan tanda baca, kurang tanda penghubung, pada kata “burung-burung” ditulis “burung burung”
  4. Kurang tanda baca titik (.) di akhir kalimat, pada kalimat “…sudah hancur tadi.” ditulis menjadi “…sudah hancur tadi”
  5. Kesalahan tanda baca, kurang tanda penghubung, pada kata “Tiba-tiba” ditulis “tiba tiba”
  6. Kesalahan penulisan huruf kapital, pada kata “Tiba-tiba” ditulis “tiba tiba”
  7. Kesalahan penempatan paragraf atau baris berikutnya, pada kalimat “…hidup lagi seperti sedia kala” ditulis terpisah menjadi “…hidup lagi” baris berikutnya “seperti sedia kala”
  8. Pengurangan kata “Nabi” pada kalimat “Nabi Ibrahim”
  9. Kesalahan penulisan huruf kapital, pada kata “Ibrahim” ditulis dengan “ibrahim”

  1. Menulis dengan dikte
Teks :
Ketika malam tiba, ia melihat bulan dan bintang. Namun bulan itu akhirnya tenggelam tak nampak lagi. Pada siang hari ia melihat matahari namun disenja hari matahari itu juga tenggelam tak nampak lagi.
Gambar 5.
  1. Hasil test
Teks :
Ketika malam tiba, iya (10. ia) melihat bulan dan bintang. namun (11. Namun) bulan itu ahirnya (12. akhirnya) tenggelam tak tampak (13. nampak) lagi. Pada siang hari ia melihat matahari, namun (14. Kesalahan tulis) di senja (15. disenja) hari matahari itu juga tenggelam tak nampak lagi.
Gambar 6.
  1. Analisis kesalahan
  1. Kesalahan penulisan kata, penambahan huruf, pada kata “ia” ditulis dengan “iya”
  2. Kesalahan penulisan huruf kapital, pada kata “Namun” ditulis “namun”
  3. Kesalahan penulisan kata, pengurangan huruf, pada kata “akhirnya” ditulis menjadi “ahirnya”
  4. Kesalahan penulisan huruf, pada kata “nampak” ditulis dengan “tampak”
  5. Kesalahan tulisan pada kata “namun”, ditulis “mamun” dan dibetulkan sendiri menjadi “namun”
  6. Kesalahan pemenggalan kata hubung, pada kata “disenja” ditulis “di senja”
  7. Ada ketidakkosnsistenan antara penulisan huruf besar dengan huruf kecil, “p” pada kata “Pada siang hari” hampir sama dengan “p” pada kata “nampak” .
  8. Tulisan kurang tepat pada garis, ada beberapa huruf yang tidak tepat penulisannya, seperti y, g, p dan j
Table analisis kesalahan menulis dengan disgrafia
No.
Jenis Kesalahan
Cek
Ket
1.
2.
3.

4.
5.

7.
8.
9.
11.
12.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.

21.
22.

23.

24.
Salah arah dalam memulai menulis
Salah dalam memegang pensil
Tidak bisa menulis nama panggilannya sendiri
Tidak dapat menulis huruf-huruf
Tidak dapat menyalin tulisan meski dengan melihat
Menulis tidak tepat pada garisnya
Terjadi pengurangan huruf dan kata
Terjadi penambahan huruf
Tulisan menunjukkan dialeg daerah
Tulisan menunjukkan kesalahan ucap
Terjadi pembalikan huruf dalam kata
Dalam menulis terjadi pembalikan konsonan
Pembalikan konsonan atau vokal
Terjadi pembalikan suku kata
Tidak memperhatikan ejaan

Tidak memperhatikan tanda baca
Tidak memperhatikan tata bahasa yang benar
Telah melampaui kematangan dan keabstrakan tema
Bentuk tulisan tanganya buruk
Penggunaan huruf besar dan kecil masih bercampur
Ada ketidak konsistenan bentuk huruf dan tulisannya
-
-
-
-
-

-
-
-
-
-
-

-







17
8, 12
10

13, 14




2
3,4 dan 5
7



1, 6, 9 dan 11,
1
16

  1. Kesimpulan analisis
Bila dari hasil pengamatan, seorang anak menunjukkan lebih dari delapan item perilaku dalam daftar ceklis ini, kemungkinan anak tersebut berisiko mengalami kesulitan belajar (Sumarlis, 2007). Untuk memperoleh informasi yang lebih akurat mengenai kondisi kesulitan belajarnya, anak bisa dirujuk kepada tenaga ahli (psikolog, pedagog), sehingga layanan pendidikan yang diberikan kepada anak berkesulitan belajar menjadi lebih tepat. Namun, tanpa rujukan tenaga ahli pun, guru tetap dapat menyusun program dan melaksanakan pembelajaran bagi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar.10
Dari data pada tabel diatas maka dapat disimpulkan subyek mengalami kesulitan belajar menulis atau disleksia, pada poin berikut :
  • Menulis tidak tepat pada garisnya
  • Terjadi pengurangan huruf dan kata
  • Terjadi penambahan huruf
  • Tulisan menunjukkan kesalahan ucap
  • Tidak memperhatikan ejaan, tanda baca dan tata bahasa
  • Penggunaan huruf besar dan kecil masih bercampur
  • Ada ketidakkonsistenan bentuk huruf dan tulisannya

  1. Diskalkulia (kesulitan belajar matematika)
  1. Pengertian
Diskalkulia atau kesulitan belajar matematika, istilah diskalkulia memiliki konotasi medis, yang memandang adanya keterkaitan dengan gangguan sistem saraf pusat. Kesulitan belajar matematika yang berat oleh Kirk disebut akalkulia (acalculia).11
Dalam karakteristik kesulitan belajar matematika terbagi menjadi12 :
  1. Kesulitan hubungan keruangan
Kesulitan mengindetifikasi atas-bawah, puncak-dasar, jauh-dekat, tinggi-rendah, depan-belakang, awal-akhir dll.
  1. Abnormalitas persepsi visual
Anak sering mengalami kesulitan untuk melihat objek dalam hubungannya dengan kelompok atau set, hal ini menimbulkan kesulitan belajar matematika, terutama dalam memahami simbol.
  1. Asosiasi visual motor
Kesulitan dalam melakukan hitungan secara berurutan
  1. Preservasi
Anak yang perhatiannya melekat pada suatu objek saja dalam jangka waktu yang relative lama, misal :
  1. 4 + 3 = 7
  2. 5 + 3 = 8
  3. 5 + 2 = 7
  1. 5 + 4 = 9
  2. 4 + 4 = 9
  3. 3 + 4 = 9
  1. Kesulitan mengenal dan memahami simbol
Simbol-simbol matemamatika ( + , - , x , : , >, <>
  1. Gangguan penghayatan tubuh
Kesulitan memahami hubungan bagian-bagian tubuhnya sendiri
  1. Kesulitan dalam bahasa dan membaca
  2. Sekor PIQ (Performance Intelegence Quotient) lebih rendah daripada sekor VIQ (Verbal Intelegence Quotient)
PIQ meliputi melengkapi gambar, menyusun gambar, menyusun balok, menusun objek dan coding, sedangkan VIQ yaitu informasi, persamaan, aritmatika, perbendaharaan kata dan pemahaman.
Kekeliruan umum yang dilakukan oelh anak berkesulitan belajar matematika yaitu13 :
  1. Kekurangan pemahaman tentang simbol
  2. Nilai tempat
  3. Penggunaan proses yang keliru
  4. Perhitungan
  5. Tulisan yang tidak dapat dibaca.
  1. Test berhitung (urutan)
Saat dilakukan tes berhitung 1-20 subyek cukup lancar menyebutkan setiap angkanya, maka observer simpulkan subyek tidak ada kesulitan dalam berhitung ini.
  1. Test perhitungan (tambah dan kurang)
Dikarenakan subyek masih usia kelas I SD, maka materi pelajaran matematika masih meliputi penambahan dan pengurangan. Dengan hasil tes sebagai berikut :
  1. 2 + 3 = 5
  2. 7 – 3 = 4
  3. 9 – 3 = 6
  1. 8 – 3 = 5
  2. 6 – 4 = 2
Gambar 7.
  1. Analisis kesalahan
Dalam materi tes yang diberikan, subjek tidak begitu mengalami kesulitan. Meskipun saat menyelesaikan soal diatas dengan menghitung dengan jari, tapi subyek bisa menyesaikan soal-soal diatas dengan baik, maka observer simpulkan bahwa anak tersebut tidak mengalami diskalkulia. Namun ada kesalahan justru menyangkut disgrafia (penempatan tanda baca titik [.]) yang salah.
Pada soal ke 1-3 subyek salah dalam menempatkan titik pada penomoran soal, yakni :
.1 2 + 3 = 5
.2 7 – 3 = 4
.3 9 – 3 = 6
Gambar 8.
Namun setelah observer beri tahu terkait kesalahannya tersebut maka pada soal ke- 4-5 sudah benar penempatan titiknya, yakni :
4. 8 – 3 = 5
5. 6 – 4 = 2
Gambar 9.
  1. Kesimpulan Analisis
Setelah menganalisis hal-hal tersebut diatas observer menyimpulkan subyek tidak mengalami kesulitan belajar matematika atau diskalkulia, namun lebih mengarah pada kesulitan belajar menulis atau disgrafia

  1. Kurikulum Yang Disarankan
Berikut tabel dan saran atas kurikulum yang bisa digunakan
No.
Jenis Kesulitan
Metode
Peralatan
1.
Disleksia
  • Penghilangan huruf atau kata


  • Pengucapan kata yang salah, tidak bermakna

  • Tidak memperhatikan tanda baca dan
  • Ragu-ragu dalam membaca

  • Metode Selusur atau VAKT (visual, auditory, kinesthetic, and tactile)

  • Metode Pengalaman Berbahasa


  • Metode Linguistik

  • Metode Pengalaman Berbahasa


  • Buku bacaan
  • Peralatan tulis
  • Buku bacaan
  • Peralatan tulis
  • Buku Bacaan
  • Alat Tulis
2.
Disgrafia
  • Menulis tidak tepat pada garisnya

  • Pengurangan huruf dan kata


  • Penambahan huruf

  • Tulisan menunjukkan kesalahan ucap
  • Tidak memperhatikan ejaan, tanda baca dan tata bahasa
  • Penggunaan huruf besar dan kecil masih bercampur
  • Ada ketidakkonsistenan bentuk huruf dan tulisannya

  • Menulis dengan menggunakan buku halus (bergaris)

  • Metode Fernald/ Multisensori


  • Metode Fernald/ Multisensori
  • Metode Fernald/ Multisensori

  • Metode Dikte

  • Metode Fernald/ Multisensori

  • Metode Fernald/ Multisensori
  • Buku halus

  • Buku bacaan
  • Audio, visual
  • Alat tulis





  • Buku bacaan
  • Alat tulis
Keterangan metode pembelajaran yang bisa diterapkan dari table diatas.
  1. Metode Selusur (V-A-K-T)14
Pra-Membaca dan Membaca Permulaan dengan Pendekatan Perkembangan
    • Prinsip: Mendayagunakan sebanyak-banyaknya kemampuan sensoris atau penginderaan.
      1. Visual : penglihatan
      2. Auditori : pendengaran
      3. Taktil : perabaan
      4. Kinestetik : kesadaran pola gerak
    • Langkah-langkah:
      1. Perlihatkan sebuah huruf berukuran besar
      2. Guru menyebutkan nama huruf & anak mengulanginya
      3. Guru mencontohkan cara menelusuri pola huruf itu dengan jari tangan
      4. Anak menelusuri pola huruf itu dengan jari tangan sendiri.
      5. Saat menelusuri pola huruf, anak membunyikan nama hurufnya.
      6. Ulangi kegiatan tersebut dua atau tiga kali.
      7. Berikan anak selembar kertas berisi pola titik-titik huruf tersebut.
      8. Anak merangkaikan titik-titik pola huruf tersebut.
      9. Saat merangkaikan titik-titik pola huruf, anak membunyikan nama hurufnya.
      10. Anak “menuliskan” pola huruf di udara, sambil membunyikan nama hurufnya.
      11. Tugaskan anak menulis huruf tersebut di kertas polos, sambil membunyikan nama hurufnya.

  1. Metode Pengalaman Berbahasa15
Metode Membaca Permulaan dengan Pendekatan Perkembangan
    • Prinsip
      1. Mengintegrasikan sekaligus 4 aspek berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis)
      2. Bahasa harus dapat menyampaikan pesan/informasi
      3. Pesan/informasi berasal dari anak sendiri
      4. Guru memfasilitasi anak agar mendayagunakan kemampuan berbahasanya untuk menyampaikan dan menerima informasi
    • Langkah-langkah
      1. Anak ditugaskan menceritakan pengalaman atau pikirannya
      2. Guru menuliskan pengalaman atau pikiran anak tersebut di papan tulis
      3. Cerita di papan tulis ini menjadi materi bacaan
      4. Anak disuruh membaca bacaan itu
      5. Anak lain memberi komnetar, pendapat dan saran terhadap cerita tersebut
      6. Anak menyalin cerita tersebut
      7. Secara bertahap, pada kegiatan-kegiatan selanjutnya, anak dilatih untuk menuliskan sendiri ceritanya

  1. Metode Linguistik16
Metode Membaca Permulaan/Lanjut dengan Pendekatan Perilaku
    • Prinsip
  1. Anak dapat menyimpulkan sendiri pola hubungan antara simbol huruf dan bunyi dari simbol huruf tersebut.
  2. Mengajarkan kata secara utuh
  3. Penekanan pada kemiripan bunyi
  4. Tidak memperhatikan makna kalimat
    • Langkah-langkah
  1. Berikan anak beberapa kata yang bermiripan
Misal : Anjing dan kucing
Anjing dan kucing suka daging
Anjing dan kucing berguling
  1. Tugaskan anak untuk membaca nyaring rangkaian kalimat tersebut
  2. Ulangi sampai anak sadar kemiripian bunyi
  3. Biarkan anak mengulang kata/kalimat meski belum paham maknanya

  1. Metode Fernald/Multisensori17
Metode Menulis Permulaan dengan Pendekatan Perkembangan
    • Prinsip
  1. Metode nama lain dari metode multisensori
  2. Bisa diterapkan pada huruf maupun kata
    • Langkah-langkah
  1. Anak memilih kata yang akan dipelajari
  2. Guru menuliskan kata dimaksud di kertas/papan tulis
  3. Guru membacakan kata dengan lafal yang tepat, anak-anak mengikutinya
  4. Anak menelusuri huruf-huruf, melafalkan kata itu bebrapa kali, lalu menuliskannya di kertas dengan menyalin dari tulisan gurunya sambil tetap melafalkan bunyi katanya.
  5. Kemudian anak disuruh menuliskan kata tersebut tanpa melihat kambali contoh tulisan guru.
  6. Kalau pada tahap ini anak melakukannya dengan benar, maka ulangi kembali langkahlangkahnya dari langkah ke-4.
  7. Bila anak sudah benar-benar menguasainya, simpanlah kata tersebut di tempat khusus,sehingga nanti bisa digunakan untuk bahan mengingat dan bahan bercerita.

  1. Metode Dikte18
Metode Menulis Permulaan/Lanjut dengan Pendekatan Perilaku
    • Prinsip
  1. Mendayagunakan kemampuan sensoris: Visual, Auditori, Taktil, dan Kinestetik
  2. Membiasakan anak mengasosiasikan bunyi (auditoris) dengan bentuk (visual) huruf.
  3. Membiasakan anak menuliskan (kinestetik) atas bunyi (auditoris) dalam bentuk gambar huruf (visual)
  4. Melatih proses menulis secara praktis
    • Langkah-langkah
  1. Anak menyimak huruf/kata yang dilafalkan guru
  2. Ulangi pelafalan bila perlu
  3. Anak menulis sambil melafalkan huruf/kata
  4. Guru menulis contoh huruf/kata di papan tulis
  5. Anak menyalin contoh dari gurunya di bawah ulisannya sendiri.
  6. Ulangi langkah-langkah tersebut 2 – 3 kali.
  7. Koreksi secara bersama-sama

BAB III
KESIMPULAN
Dari observasi dan test yang dilakukan observer diatas maka dapat disimpulkan anak (subyek) mengalami disleksia dan disgrafia masih pada tingkat ringan atau bahkan belum bisa dikatakan disleksia maupun disgrafia, kerena kesalahan-kesalahan yang ada masih kurang dari delapan item untuk masing-masing kesulitan belajar, dengan cirri-ciri sebagai berikut :
  1. Disleksia (empat item)
  • Penghilangan huruf atau kata
  • Pengucapan kata yang salah, tidak bermakna
  • Tidak memperhatikan tanda baca dan
  • Ragu-ragu dalam membaca
  1. disgrafia (tujuh item)
  • Menulis tidak tepat pada garisnya
  • Pengurangan huruf dan kata
  • Penambahan huruf
  • Tulisan menunjukkan kesalahan ucap
  • Tidak memperhatikan ejaan, tanda baca dan tata bahasa
  • Penggunaan huruf besar dan kecil masih bercampur
  • Ada ketidakkonsisten-an bentuk huruf dan tulisannya
Adapun kurikulum pelajaran yang bisa dilaksanakan dengan metode berikut ini :
  1. Metode Selusur atau VAKT (visual, auditory, kinesthetic, and tactile)
  2. Metode Pengalaman Berbahasa
  3. Metode Linguistik
  4. Menulis dengan menggunakan buku bergaris (buku halus)
  5. Metode Pengalaman Berbahasa
  6. Menulis dengan menggunakan buku halus (bergaris)
  7. Metode Fernald/Multisensori
  8. Metode Dikte
DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono.Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar.Jakarta:Rineka Cipta.2003.
Irawati, Intan.Disgrafia pada Anak Kesulitan Menulis dan Solusinya (http://www. kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&dn=20080718135102), 18 Juli 2008, diakses tangga 1 Desember 2010.
Wirawan, Helex.Mengatasi Kesulitan Belajar Pada Anak.(http://www.iapw.info /home/index.php?option=com_content&view=article&id=141:mengatasi-kesulitan-belajar-pada-anak&catid=32: ragam&Itemid=45),23 Februari 2009. diakses tanggal 8 Desember 2010.
13 Model Kurikulum Bagi Peserta Didik Yang Mengalami Kesulitan Belajar.Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional.2007.

Lampiran
  1. Dokumentasi observasi


Foot Note
1 Helex Wirawan. Mengatasi Kesulitan Belajar Pada Anak.(http://www.iapw.info/home/index. php?option=com_content&view=article&id=141:mengatasi-kesulitan-belajar-pada-anak&catid=32: ragam&Itemid=45),23 Februari 2009.diakses tanggal 8 Desember 2010.
2Mulyono Abdurrahman.Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar.(Jakarta:Rineka Cipta,2003),204.
3 Ibid
4 Ibid., 205.
5Ibid., 210-212.
6Ibid., 228.
7 Ibid.
8 Ibid., 229.
9 Ibid., 233-244.
10 13 Model Kurikulum Bagi Peserta Didik Yang Mengalami Kesulitan Belajar.(Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional.2007),11.
11 Ibid.,259.
12 Ibid.,259-261.
13 Ibid.,262-265.
14 13 Model Kurikulum Bagi.,16.
15 Ibid.,18.
16 Ibid.,18.
17 Ibid.,21.
18 Ibid.,22.

Ulumul Qur'an

AQSAM DALAM AL-QUR'AN

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas
akhir semester mata kuliah "Ulumul Qur'an"

Dosen Pengampu :
Dra Nurul Hanani. M,Hi


Disusun Oleh :
Mochamad Badrusalim (932105208)


JURUSAN TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAM ISLAM NEGERI

(STAIN) KEDIRI

2009




BAB I
Pendahuluan

A.Latar Belakang
Al-Qur'an diturunkan sebagai petunjuk (Al-Huda) bagi seluruh umat manusia. Dalam upaya menfungsikan Al-Qur'an sebagai petunjuk tentunya tidak semata-mata dengan mudah, hal ini perlu dikaji dan dipahami secara detail dan menyeluruh Al-Qur'an tersebut.
Allah selalu menunjukkan kebenaran kalam-Nya dalam Al-Qur'an, dan dengan kalam-Nya manusia dapat mengambil pelajaran, hikmah dan petunjuk yang terkandung didalamnya. Dalam menunjukkan kebenaran biasanya perlu adanya bukti, selain itu juga sumpah, Allah-pun sering menggunakan sumpah dalam Al-Qur'an untuk menunjukkan kebenaran kalam-Nya didalamnya.
Sumpah didalam Al-Qur'an disebut juga Qasam, adalah perkataan Allah yang disunakan untuk menunjukkan kebenaran kenabiaan, ketauhidan hari akhir dan segala yang berhubungan dengan kalam_nya didalam Al-Qur'an.

B.Rumusan Masalah
1.Pengertian aqsam
2.Unsur-unsur dan ungkapan qasam
3.Macam-macam qasam
4.Urgensi qosam dalam Al-Qur'an
5.Faedah qasam dalam Al-Qur'an





BAB II
Pembahasan

A.Pengertian Qasam

Menurut bahasaﺃﻗﺴﻢmerupakan bentuk jamak, sedangkan bentuk tunggalnya adalah ﻗﺴﻢ yang berarti sumpah. Kata lain yang bersinonim dengan perkataan ﻗﺴﻢ adalah kataﺣﻠﻒ dan ﻴﻣﻳﻦ. Bentuk kata kerja dari kata benda aqsam adalah ﻗﺴﻢ atau ﺣﻠﻒ yang berarti "Dia telah bersumpah".1
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, sumpah (qasam) didefinisikan dengan pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau sesuatu yang dianggap suci bahwa apa yang dikatakan atau dijanjikan itu benar.2
Qasam menurut Manna' Al-Qattan adalah:
ﺮﺑﻂ ﺍﻟﻨﻓﺲ ﺒﺍﻺﻤﺗﻨﺍﻉﻋﻦ ﺸﺊ ﺃﻭﺍﻹ ﻘﺪﺍﻡ ﻋﻟﻴﻪ ﺑﻤﻌﻨﻰ ﻤﻌﻇﻡ ﻋﻨﺪﺍ ﻟﺤﺎ ﻟﻒ ﺤﻗﻴﻗﺔ ﺃﻭﺍﻋﺗﻗﺎ ﺪﺍ
"Mengikat atau meyakinkan jiwa (seseorang) untuk menolak atau menerima sesuatu. Bagi yang bersumpah, sesuatu yang karenanya ia bersumpah merupakan sesuatu yang agung." 3
Atau,
ﺗﺄﻜﻴﺪﺍ ﻟﺷﺊ ﺑﺫ ﻜﺮﻤﻌﻇﻢ ﺑﺎﻟﻮﺍﻮﺃﻮﺇﺤﺪﻯ ﺃﺧﻮﺍﺗﻬﺎ
"Memperluas maksud dengan disertai penyebutan sesuatu yang memiliki kedudukan lebih tinggi dengan memfungsikan huruf wawu atau alat lainnya" 4

Di dalam Al-Qur'an ungkapan untuk memaparkan sumpah ini adakalanya dengan menggunkan aqsama (ﺃﻗﺴﻢ), adakalanya juga menggunakan kata halafala. Kata aqsama dengan kata jadiannya disebut sebanyak 22 kali, sedangkan kata halafa dalam Al-Qur'an diulang sebanyak 13 kali.5
Sementar Dr Aisyah binti Shati dalam penelitiannya terhadap ayat Al-Qur'an ayng menggunakan ﺣﻠﻒ dan ﻗﺴﻢ menyatakan bahwa ﺣﻠﻒ dala Al-Qur'an menunjukkan sumpah bohong "ﻔﻰ ﻤﻘﺎﻢ ﺍﻠﻨﺖ ﺑﺎﻠﻴﻤﻴﻦ " sedangkan perkataan digunakan untuk sumpah yang benar "ﺃﻤﺎﺍﻠﻘﺴﻢ ﻔﺑﻟﺐ ﻤﺠﻴﺌﻪ ﻔﻰﺍﻷ ﻴﻤﺎﻦ ﺍﻟﺼﺪﻔﺔ ".6

B.Huruf-huruf Qasam

Huruf-huruf yang digunakan untuk qasam ada tiga. Pertama,huruf wawu, seperti firman Allah,7
         
"Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijadikan itu adalah benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan."(QS.Ad-Dzariyaat 51:23)
Sumpah yang menggunakan huruf wawu tidak perlu menggunakan lafal aqsama, ahlafa; sesudahnya harus menggunakan kata yang jelas; bukan kata pengganti.

Kedua, huruf ba' , seperti firman Allah,
    
"Aku bersumpah dengan hari kiamat." (QS.Al-Qiyaamah 75:1)
Bersumpah dengan menggunakan huruf ba' bisa disertai kata yang menunjukkan sumpah, sebagaimana contoh diatas, dan dapat pula tanpa menyertakan kata sumpah, sebagaimana firmana Alllah,
    
"Iblis menjawab, "Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semua"." (QS.Shad 38:82)
Ketiga, huruf ta', seperti firman Allah,
      
"Demi Allah, sesungguhnya kamu akan ditanyai tentang apa yang telah kamu ada-adakan." (QS.An-Nahl 16:56)

C.Unsur-unsur Qasam dan Ungkapannya

1. Fi'il (kata kerja) transitif dengan huruf ba'
Bentuk asal aqsam adalah fi'il aqsama ﺃﻗﺴﻢ atau ahlaha yang transitif dengan ba' kemudian disusul dengan muqsam bih dan muqsam alaih yang dinamakan juga jawab qasam, misalnya: 8
          ……
"Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: "Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati"…".(QS.An-Nahl 16:38)
Selanjutnya huruf qasam ba' diganti dengan wawu apabila muqasam-nya terdiri atas isim dhamir (kata ganti). Kadangkala huruf ba' diganti oleh huruf ta' apabila muqasam-nya lafazh jalalah, contohnya:
            
"Saudara-saudara Yusuf menjawab "Demi Allah Sesungguhnya kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah para pencuri ".(QS. Yusuf 12:73)

2. Muksam bih ( ﻤﻗﺴﻢﺒﻪ ) adalah sesuatu yang dijadikan sumpah oleh Allah
a.Allah
Allah terkadang bersumpah dengan diri-Nya sendiri dan terkadang pula dengan sifat-sifat-Nya. Dalam Al-Qur'an Allah bersumpah dengan diri-Nya sendiri pada tujuh tempat berikut.
         
"Maka demi Tuhan langit dan bumi, Sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan."(QS.Adz-Dzariyaat 51:23)
             
"Dan mereka menanyakan kepadamu: "Benarkah (azab yang dijanjikan) itu? Katakanlah: "Ya, demi Tuhanku, Sesungguhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (daripadanya)".(QS.Yunus 10:53)
Qasam Allah dalam Al-Qur'an lainnya yang menggunakan dirinya sendiri antara lain pada Surat At-Taghabun (64) ayat 7, Surat Maryam(19) ayat 68, Surat Al Hijr(15) ayat 92, Surat An-Nisa'(4) ayat 65 dan Surat Al-Ma'arij(70) ayat 40.
b.Makhluk-Nya
            
”Demi malam apabila menutupi (cahaya siang). Dan siang apabila terang benderang. Dan penciptaan laki-laki dan perempuan," (QS AL-Lail 92:1-3)
       
”Demi fajar. Dan malam yang sepuluh. Dan yang genap dan yang ganjil" (QS AL Fajr 89:1-3)
   
"Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang". (QS At-Takwiir 81:15)
Qasam lainnya yang menggunakan makhluk adalah dalam surat At-Tin (92) ayat1-2, suratAsy-Syams (91) ayat 1-6.9
Mengenai pertanyaan "Mengapa Allah bersumpah dengan menyebut makhluk-makhluk-Nya, padahal ada larangan untuk bersumpah dengan menyebut selain Allah?".seperti:
ﻤﻦﺤﻟﻒ ﺒﻐﻴﺮﺍﷲ ﻔﻗﺪ ﻛﻔﺭﺃﻮﺃﺷﺮﻙ
"Barang siapa bersumpah dengan menyebut nama selain Allah, maka ia telah kafir atau musyrik." (HR Abu Hatim)
As-Suyuthi mengemukakan jawaban berikut:10
1)Kata yang dibuang pada ungkapan demi buah tin dan demi buah zaitun, yakni kata pemilik. Jadi, ungkapan yang sebenarnya adalah demi pemilik buah tin dan demi pemilik buah zaitun.
2)Orang arab biasa menggunakan benda dalam bersumpah, maka Al-Qur'an menggunkan ungkapan-ungkapan yang sudah mereka kenal yaitu menggunakan benda untuk bersumpah.
3)Sumpah dilakukan dengan menyebut sesuatu yang diagungkan dan dimuliakan kedudukannya diatas orang yang bersumpah, sedangkan bagi Allah tidah ada sesuatupun yang lebih mulia.
Seperti sumpah atas umur Nabi Muhammad SAW,
     
"Allah berfirman: "Demi umurmu (Muhammad), Sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)"." (QS Al-Hijr 15:72)

Orang Arab biasa bersumpah dengan umur seseorang. disini Allah bersumpah dengan umur atau kehidupan nabi Muhammad SAW untuk memuliakan beliau.

3. Muqsam 'alaih ( ﻤﻗﺴﻢ ﻋﻟﻴﻪ) atau jawab qasam
Muksam 'alaih yaitu sesuatu yang dilakukan sumpah, atau kata lain terhadapnya, sesuatu yang diperkuat dengan sumpah itu.
Dalam Al-Qur'an, secara garis besar Allah bersumpah tentang hal-hal berikut:
a.Ketauhidan
            
"Demi (rombongan) yang ber shaf-shaf dengan sebenar-benarnya. Dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan maksiat). Dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa." (QS As Shaffat 37:1-4)
b.Kebenaran Al-Qur'an
              
"Maka Aku bersumpah dengan masa Turunnya bagian-bagian Al-Quran. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu Mengetahui. Sesungguhnya Al-Quran Ini adalah bacaan yang sangat mulia," (QS Al-Waqi'ah 56:75-77)
c.Kebenaran Rosulullah SAW dalam surat Yaasin (36) ayat 1-3.
d.Kebenaran hari pembalasan dalam surat Al-Mursalat (77) ayat1-7.
e.Keadaan manusia dalam surat At-Tin (95) ayat 1-4.11
Macam-macam muqsam 'alaih yang terdapat dalam Al-Qur'an dapat dijelaskan sebagai berikut: 12
a)Jawab Qasam terkadang disebutkan dan ini yang umumnya terjadi, terkadang pula dibuang, semagaimana halnya lau syarat yang sering pula dibuang, seperti terdapat pada firman Allah,
     
"Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin." (QS At Takatsur 102:5)
Jawab qasam yang dibuang bunyi,
ﻟﻧﻌﺬ ﺑﻦ ﻴﺎ ﻜﻔﺎ ﺭﻤﻜﺔ
"Maka, kami pasti akan menyiksa kalian wahai para kafir Mekah."
b)Fi'il Madhi (bentuk lampau) mutsbit (tidak didahului huruf lain) dan mutasytarrif (yang dapat diderivasi) yang tidak mendahuluii ma'mul-nya, apabila menjadi qasam, harus disertai dengan lam dan qad (laqad). Tidak boleh menyertakan satu saja dari keduanya kecuali berada dalam uraian yang panjang seperti firman Allah,
                                   
"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari. Dan bulan apabila mengiringinya. Dan siang apabila menampakkannya. Dan malam apabila menutupinya[1579]. Dan langit serta pembinaannya. Dan bumi serta penghamparannya. Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu." (QS As Syams 91:1-9)

D.Macam-macam Qasam (Aqsam)

1.Qasam Dzahir, yaitu qasam yang fi'il qasam dan muqsam bih-nya jelas terlihat dan disebutkan; atau qasam yang fi'il qasam-nya tidak disebutkan, tetapi diganti dengan huruf qasam, yaitu ba', ta' dan wawu didalam beberapa tempat. Terdapat fi'il qasam yang didahului la nafiyah (لا) seperti firman Allah,
         
"Aku bersumpah demi hari kiamat. Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)." (QS Al-Qiyamah 75:1-2)
2.Qasam Mudzmar, yaitu qasam yang fi'il qasam dan muqsam bih-nya tidak jelas dan tidah ditunjukkan, tetapi keberadaanya ditunjukkan oleh lam mu'akkidah (lam yang berfungsi untuk menguatkan pembicaraan) yang terletak pada jawab qasam, seperti firman Allah: ﻠﺗﺑﻟﻮﻦ ﻔﻰ ﺃﻤﻮﻟﻜﻡ ﻮﺃﻨﻓﺴﻜﻡ yakni ﻮﺍﷲ ﻟﺗﺑﻟﻮﻦ.13

E.Urgensi Sumpah (Qasam)

Sumpah bagi manusia bertujuan untuk mengikat diri untuk tidak melakukan sesuatu atau melakukan sesuatu. Tapi, sumpah bagi Allah adalah untuk menekankan berita sesudahnya dan menguatkan kandungan ungkapan yang dimaksud. Sebab, menurut Abul Qasim al-Qusyairi bahwa suatu hukum akan menjadi lebih kuat kalau disertai saksi atau sumpah. Sumpah merupakan penekanan yang terkenal untuk memantapkan jiwa dan menguatkannya. Al-Qur'an turun kepada seluruh manusia. Mereka menyikapinya bermacam-macam, di antaranya ada yang ragu, ada yang ingkar, dan ada pula yang menentang habis-habisan. Maka, sumpah dalam Al-Qur'an dalam rangka menghilangkan keraguan dan membatalkan syubuhat (kesamaran), menegakkan hujjah (argumen) dan menguatkan berita, serta menekankan hukuman dengan sebaik-baik gambaran, demikian pendapat Syaikh Manna' al-Qaththan.14

F.Faedah Penggunaan Aqsam dalam Al-Qur'an

1.Memperkuat informasi yang hendak disampaikan
As-Suyuti telah mengemukakan jawaban atas pertanyaan, "Apakah faedah sumpah dari Allah SWT.? Bila itu ditujukan kepada orang-orang mukmin, tidaklah ada faedahnya sebab mereka akan segera membenarkan berita yang berasal dari-Nya sekalipun tanpa diiringi sumpah. Bila ditujukan badi orang-orang kafir, hal itu juga tidak ada faedahnya. "As-Suyuti menjawab bahwa sesungguhnya Al-Qur'an diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab dan sebagian dari kebiasaan bahasa Arab adalah menggunakan sumpah ketika hendak memperkuat suatu hal.15
2.Menyempurnakan hujjah (argumentasi)
Abu Hasan Al-Qusyairi menjawab bahwa tujuannya adalah untuk kesempurnaan hujjah, hal ini karena segala sesuatu dapat dipastikan keberadaannya dengan dua cara, yaitu persaksian dan sumpah. Kedua cara itu digunakan Allah dalam kitab-Nya sehingga mereka tidak memiliki hujjah untuk membantahnya, Allah berfirman,
…..      …….
"…Katakanlah: "Ya, demi Tuhanku, Sesungguhnya azab itu adalah benar"…". (QS Yunus 10:53)



BAB III
Kesimpulan

Ilmu Aqsam al-Qur’an. Yaitu ilmu yang menerangkan arti dan maksud-maksud sumpah Tuhan atau sumpah-sumpah lainnya yang terdapat di dalam al-Qur’an.
Menurut bahasa aqsam merupakan bentuk jamak, sedangkan bentuk tunggalnya adalah qasam yang berarti sumpah. Kata lain yang bersinonim dengan perkataan qasam adalah kata hulifa dan yamiinu. Bentuk kata kerja dari kata benda aqsam adalah qasam atau hulifa yang berarti "Dia telah bersumpah".
1.Huruf-huruf yang digunakan untuk qasam ada tiga.
1.Huruf wawu
2.Huruf ba'
3.Huruf ta'
2.Unsur-unsur Qasam dan Ungkapannya
1. Fi'il (kata kerja) transitif dengan huruf ba'
2. Muksam bih adalah sesuatu yang dijadikan sumpah oleh Allah
a.Allah
b.Makhluk-Nya
3. Muqsam 'alaih atau jawab qasam
3.Urgensi Sumpah (Qasam
Sumpah bagi manusia bertujuan untuk mengikat diri untuk tidak melakukan sesuatu atau melakukan sesuatu. Tapi, sumpah bagi Allah adalah untuk menekankan berita sesudahnya dan menguatkan kandungan ungkapan yang dimaksud.



4.Faedah Penggunaan Aqsam dalam Al-Qur'an
a.Memperkuat informasi yang hendak disampaikan
Bahwa sesungguhnya Al-Qur'an diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab dan sebagian dari kebiasaan bahasa Arab adalah menggunakan sumpah ketika hendak memperkuat suatu hal.
b.Menyempurnakan hujjah (argumentasi)
Abu Hasan Al-Qusyairi menjawab bahwa tujuannya adalah untuk kesempurnaan hujjah, hal ini karena segala sesuatu dapat dipastikan keberadaannya dengan dua cara, yaitu persaksian dan sumpah.


Daftar Pustaka

Anwar,Rosihon.Ilmu Tafsir.Bandung:CV Pustaka Setia,2000.
Baqi,Muhammad fuad Abd al-.Al-u'jam Al-Mufahras Li Alfaz Al-Qu'ran Al-Karm.Lubhan: Dar al Fikr,1987.
Chirzin,Muhammad.Permata Al-Qur'an.Yogyakarta:Qirtas,2003.
Farid Ahmad Okbah.http://alislamu.com/index.php?option=com_content&task=view &id=10&Itemid=35>.Senin,5 Januari 2009.
http://pustakahikmah.unpad.ac.id/?s=anakku&paged=3
Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa Juz 3.Riyadh:Daar Alamul Kutub,1991.
Kusmana dan Syamsuri.Pengantar Kajian Al-Qur'an.Jakarta:UIN Jakarta Press,2004.
Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Husni.Mutira Ilmu-Ilmu Al-Qur'an.trj Rosihon Anwar. Bandung:Pustaka Setia.1999
Qaththan,Manna al.Mabahits Fii Ulumil Qur’an.Beirut: Ar-Risalah,Cet. II 1999.
Shiddieqy,Teungku Muhammad Hasbi Ash.Ilmu-ilmu Al-Qur'an.Semarang:PT Pustaka Rizki Putra,cet ke II 2002.
Suyuthi,Jalaluddin asy.Al-Itqon fii Ulumil Qur’an,Juz 4,Tahqiq M. Abul Fadhl Ibrahim. Beirut: Al-Maktabah Al-Ashrah,1998.
Utsman,Muhammad Bin Shaleh Al-.Dasar-dasar Penafsiran Al-Qur'an,terj Agil Al Munawwir.Semarang: Dimas,1989.

Makalah (dalam format Doc)

Design by WPThemesExpert | Blogger Template by BlogTemplate4U