Kesuksesan Adalah Milikku. Aku Akan Mendapatkanmu Walau Kemanapun Itu. Akan Kukejar Kamu Sampai Kemanapun Itu. Karena Kesuksesan Adalah Hak ku.

Ilmu Sosial dan Budaya Dasar

KERAGAMAN
SANTRI PONDOK PESANTREN HAJI YA’QUB
(LIRBOYO)

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas
mata kuliah "Ilmu Sosial dan Budaya Dasar"

Dosen Pengampu :
Ahmad Taufiq M,Pd







Disusun Oleh :
Syauqi Lutfi (932104108)
Ratna Mufidatul M (932104208)
Mochamad Badrusalim (932105208)
Ulfa Rifqiawati (932105308)
Siti Zulaikah (932106408)

JURUSAN TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAM ISLAM NEGERI
(STAIN) KEDIRI
2009
BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Untuk mencapai suatu peradaban yang tinggi diperlukan beberapa faktor, selain sumber daya alam (SDA) yang cukup, perlu adanya tingkat sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Dalam mencetak sumber daya manusia yang demikian sangat diperlukan pendidikan yang memadai, terjangkau dan berkualitas.
Begitu banyak model dan macam lembaga pendidikan mulai yang formal, non formal, tradisional dan modern. Salah satu instansi pendidikan yang ada dan telah berakar kuat di Indonesia adalah Pondok Pesantren. Sebagai salah satu lembaga pendidikan tentunya Pondok Pesantren juga sangat berperan penting dalam mencetak generasi-generasi intelektual sebagai penerus bangsa, terbukti dari para pemimpin bangsa ini banyak yang berlatar belakang pesantren.
Berbagai problem tentunya selalu mengiringi setiap langkahlembaga yang disebut Pondok Pesantren ini dalam menapaki masa kemasa. Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga yang didalamnya sarat dengan majemuk, plural, heterogen dari berbagai macam etnik dan budaya, dari macam-macam daerah, dari berbagai tingkat usia dan pendidikan. Dari pluralis tadi tentunya akan mengakibatkan kesenjangan antar para santri sebagai salh satu unsure dalam ponok pesantren. Dari berbagai kesenjangan tersebut yang menjadi tumpuan dalam penelitian masalah kemajemukan dan kesederajatan antar santri dalam pondok pesantren.





B.Rumusan Masalah
1.Bagaimana keragaman santri pondok pesantren ?
2.Bagaimana keseharian santri pondok pesantren ?
3.Masalah apa yang timbul karena keragaman ?
4.Mengapa santri pondok bisa kompak dalam kesehariannya ?

C.Batasan Masalah
1.Keragaman santri Pondok Pesantren Haji Ya’qub.
2.Penyelesaian terhadap keragaman (Plural) santri Pondok Pesantren Haji Ya’qub.



















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.Keragaman
Keragaman berasal dari kata ragam yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya: 1) tingkah laku; 2) macam, jenis; 3) lagu, musik; langgam; 4) warna, corak, ragi; 5) (ling) laras (tata bahasa). Sehingga keragaman berarti perihal beragam-ragam: berjenis-jenis; perihal ragam; hal jenis.
Keragaman yang dimaksud disini adalah suatu kondisi dalam masyarakat dimana terdapat perbedaan-perbedaan dalam berbagai bidang, terutama suku bangsa dan ras, agama dan keyakinan, ideologi, adap kesopanan serta situasi ekonomi.1
Masalah-masalah yang menggoyahkan persatuan dan kesatuan, antara lain:2
1.Disharmonisasi, adalah tidak adanya penysuaian atas keragaman antara manusia dengan lingkungannya. Disharmonisasi dibawa oleh virus paradoks yang ada dalam globalisali.
2.Perilaku diskrimainatif terhadap etnis atau kelompok masyarakat tertentu.
3.Eksklusivisme, menganggap bahwa suku atau rasnya lebih tinggi dari suku atau ras kelompok yang lain.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memperkecil masalah yang diakibatkan oleh pengaruh negatif dari keragaman, yaitu:1) Semangat religius, 2) semangat nasionalisme, 3) semangat pluralisme, semangat humanisme, 4) dialog antar umat beragama, dan 4)membangun pola komunikasi untuk interaksi maupun konfigurasi.
Keterbuakaan, kedewasaan sikap, pemikiran global yang bersifat inklusif, serta kesadaran kebersamaandalam mengarungi sejarah merupakan modal yang sngat menentukan terciptanya persatuan dan kesatuan. Menyatu dalam keragaman, dan beragam dalam kesatuan. Segala bentuk kesenjangan didekatkan, segala keanekaragaman dipandang sebagai kekayaan, milik bersama. Sikap inilah yang perlu dikembangkan dalam pola pikir dalam menanggapi masalah keragaman.

B.Pesantren dan keragaman
Menurut etimologi (bahasa), kata "Pesantren" berasal dari kata santri dengan awalan pe- dan akhiran -an yang berarti tempat tinggal para santri. Profesor Jahus berpendapat bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji. Sedangkan CC Berg berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari "shastri" yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu atau sarjana ahli Kitab Agama Hindu. Kadang-kadang kata sant "manusia yang baik". Kata pesantren dapat berarti "tempat pendidikan manusia baik-baik".3
Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang masih asli di Indonesia meskipun kini banyak istilah pesantren modern tapi beberapa tradisi dalam pesantren masih kental dengan akhlaqul karimah seperti mengutamakan sholat berjamaah, tradisi kerja bakti bersama-sama untuk membersihkan lingkungan pondok (ro'an) yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu selain piket harian. Dari beberapa tradisi yang ada dalam pesantren menggambarkan dari sifat gotong royong, persatuan dan kesatuan.
Meskipun sifat gotong royong sekarang semakin menurun terutama pada daerah perkotaan yang mulai berpola hidup individualistik dan materialistik. Pesantren awal mula perkembangannya di daerah pedesaan, pelosok-pelosok, daerah pesisir yang secara tradisional mendidik santri-santrinya dengan akhlakul karimah dan pengetahuan agama.
Unsur-unsur pesantren terdiri dari kiai, ustadz, santri dan pengurus pesantren menjadi satu komunitas yang hidup bersama dalam satu lingkungan pendidikan berlandaskan nilai-nilai agama Islam.
Dengan demikian unsur-unsur pesantren adalah: (1) Pelaku terdiri dari kiai, ustadz, santri dan pengurus, (2) Sarana perangkat keras misalnya Masjid, rumah kiai (dalem), rumah ustadz, gedung pondok, gedung madrasah dan gedung-gedung lain untuk sarana pendidikan seperti perpustakaan, aula, kantor pengurus pesantren, kantor organisasi santri, keamanan, koperasi, gedung-gedung ketrampilan dan lain-lain. Dan yang ke-(3) Sarana perangkat lunak: kurikulum, buku-buku, dan sumber belajar lainnya, cara belajar mengajar (bandongan, sorogan, halaqoh dan menghafal), evaluasi belajar-mengajar.4
Sebagai lembaga pendidikan secara umum pesantren memiliki dua pola pendidkan. Pola formal yaitu pola pendidikan yang mengembangkan metode belajar mengajar modern secara klasikal dan terukur, dengan tetap memasukkan muatan-muatan pesantren, tanpa mengesampingkan materi umum.
Sedangkan pola non formal (tradisional), yaitu pola yang dikembangakan menggunakan cara tradisional seperti pengajian dengan metote sorogan dan bandongan. Lembaga pesantren yang ada sekarang sudah banyak mengadopsi konsep belajar modern, hal ini dilakukan agar pesantren mampu mengantarkan alumninya yang siap di dunia luar dan bekal menghadapi zaman global saat ini.5
Pesantren sebagai lembaga pendidkan di Indonesia memeng telah ada sejak ratusan tahun lalu. Hal inilah yang menjadikan pesantren tetap ada dan berkembang di bangsa ini. Seperti diungkapkan oleh Kuntowijoyo dalam buku Paradigma Islam (1991), pada artikel Peranan Pesantren dalam Pembangunan Desa. Dalam artikel tersebut, Kunto menyebutkan bahwa pesantren di Indonesia mempunyai akar sejarah yang panjuang, sekalipun pesantren-pesantren besar yang ada sekarang keberadaan asal usulnya hanya dapat dilacak sampai abad ke-19 atau awal abad ke-20.6
Pesantren adalah salah satu lembaga yang memiliki karakteristik tersendiri dari lembaga-lembaga lainnya. Karakteristik pesantren sarat dengan nilai-nilai agama, religius dan nilai sosial yang tinggi. Sedangkan dalam keragaman dalamj pesantren dapat dilihat dari karaktereistik nilai, yaitu bangunan nilai yang terlahir dari pelosok-pelosok, ia muncul dari pedesaan, pegunungan, pesisir laut serta dunia perkotaan. Itu semua muncul dari keragaman etnik, budaya, kepercayaan dan tingkat sosial.
Pondok pesantren merupakan salah satu bentuk Indegenous Cultura atau bentuk kebudayaan asli bangsa Indonesia. Sebab, sebagai lembaga pendidikan dengan pola Kiai, murid dan asrama yang telah dikenal dalam kisah dan cerita khususnya di pulau Jawa.7
Begitu banyak kerangaman dilingkungan podok pesantren menjadikan pesantren sendiri suatu komunitas dari berbagai kemajemukan berbagai segi. Juga kesederajatan di lingkungan pondok pesantren dapat diamati dari kegiatan-kegiatan dan budaya yang ada dilingkungan pesantren itu sendiri.
Fenomena pesantren yang menjadi ciri kepribadiannya adalah jiwanya, yaitu roh yang mendasari dan meresapi seluruh kegiatan yang dilakukan oleh segenap keluarga pondok. Roh tersebut dirumuskan oleh KH Imam Zarkasy dengan "Panca Jiwa" pondok, yaitu berupa:1) Keikhlasan,2) Persaudaraan,3) Menolong diri sendiri, dan 5) Kebebasan.8
Dalam kaitannya dengan pesantren disini ada nilai lebih dari pesantren yaitu kekuatan pesantren. Kekuatan ini dapat dilihat misalnya sistem pendidikan, sistem pendidikan di pesantren ini melestarikan cirri-ciri khas dalam interaksi sosial, yaitu:
1.Adanya hubungan yang akrab antara santri dengan kiai serta taat hormatnya para santri kepada kiai, yang merupakan figur kharismatik panutan kebaikan.
2.Semangat menolong diri sendiri dan mencintai diri dengan berwiraswasta.
3.Jiwa dan sikap tolong menolong, kesetiakawanan, suasana kebersamaan dan persaudaraan.
4.Disiplin waktu dalam melaksanakan pendidikan dan beribadah.
5.Hidup hemat dan sederhana.
6.Berani menderita untuk mencapai tujuan, seperti tirakat, shalat tahajjud di waktu malam, i'tikaf di masjid untuk merenungkan kebersamaan dan kesucian Allah SWT.
7.Merintis sikap jujur dalam setiap ucapan dan perbuatan.
Selain kekuatan dan kelebihan pesantren yang lain adalah potensi sosio-kulturalnya yang merupakan modal besar.9
Mengenai kegiatan sehari-hari dilingkungan pesantren, khusunya yang dialami santri mukim (bertempat tinggal di pondok), pada prinsipnya adalah belajar, beribadah, mengurus keperluan hidup dan amaliah kemasyarakatan. Kegiatan belajar antara lain berupa pengajian kitab, mengikuti pelajaran madrasah, kegiatan bahstul masail, syawir, latihan kepemimpinan, praktek pidato,dan lain sebagainya. Kegiatan ibadah meliputi: shalat berjamaah, zdikir, tadarus Al-Qur'an, shalat malam, puasa sunah dan lain-lain. Kegiatan mengurus keperluan sehari-hari misalnya, belanja ke pasar, memasak, mencuci dan acara santai sekedarnya. Amaliah ke masyarakat seperti, kerja bakti, menghadiri undangan masyarakat, menyelenggarakan upacara di pesantren dan lain sebagainya.10

BAB III
PEMBAHASAN

1.Data
Pertanyaan yang diajukan dalam angket dan wawancara, yaitu:
1.Menurut pengetahuan anda dalam satu pondok apa ada pengelomokan komunitas santri?
2.Apa yang menyebabkan pengelompokan tersebut?
3.Kegiatan apa yang anda lakukaj setelahj selesai mengaji?
4.Bagaiman cara anda agar kompak dengan santri dari beragam sosio-budayanya?
5.Dengan siapa anda lebih sering musyawarah dala memecahkan masalh baik pribadi ataupun masalah bersama?
6.Lebih nyaman mana interaksi dengan teman satu kamar, saudara, teman satu daerah, satu sekolah?
7.Faktor apa yang menyatukan keragaman para santri?

2.Pembahasan
Dari pertanyaan-pertanyaan diatas terdapat kesamaan jawaban yang cukup bisa mewakili jawaban dalam pembahasan ini dan dapat disimpulkan,
Hal hal yang menyebabkan para santri pesantren dapat kompak dan bersatu dalam keberagaman yang ada adalah:
1.Sering diadakan kerja bakti baik di dalam lingkungan pondok ataupun di luar pondok, dan hal ini semakin mempererat hubungan persaudaraan dan kekeluargaan antar santri.
2.Persaudaraan asal daerah atau kota, meskipun ini terkadang terlihat membeda-bedakan asal daerah tapi dengan daerah lain merekapun tetap saling menghargai dan menghormati.
3.Mereka mempunya meksud dan tujuan yang sama dalam lingkungan pondok tersebut, yaitu merasa senasib sepenanggungan sam-sama mencari ilmu, sama-sama mencari keridho'an ustadz dan kiai, sama-sama dalam perantauan. Hal ini menjadi semangaty tersendiri bagi para santri dalam kekompakan.
4.saling menghormati satu sama lain, meskipun beda daerah, beda sosio-kulturalnya, beda usia dan perbedaan yang lainnya yang ada dala pondok pesantren.
5.Sifat kesederhanaan dan apa adanya dalam pondok bias menyatukan mereka dan kompak dalam kesehariannya, serta merasa sama-sama memiliki tanggung jawab dan kewajiban masing-masing yang harus dipenuhi.
6.Semangat menghargai keragaman dan keadilan juga menjadi factor penting dalam menerima keragaman..
7.Diadakan musyawarah atau diskusi membahas materi-materi yang telah dikaji demi lebih mendalami apa yang telah didapat menjadikan kekompakan mereka semakin terpupuk dan berakar kuat.
8.Semangat saling mengingatkan dan menjaga teman-teman santri yang lain menjadikan mereka selalu menghargai sdesama santri yang lain.
9.Kegiatan santri sehari-hari yaitu kegiatan belajar, amaliah, mengurus diri sendiri dan lain-lain.
Dari beberapa kesimpulan dari jawaban diatas sudah dapat ditarik kesimpulan behwa hal-hal yang dapat menyatukan kkeragaman antar santri pesantren aadalah semangat menghargai dan saling menghormati satu sama lain meskipun berbeda-beda sosio-kulturalnya. Berbagai kekuatan pesantren yang menjadikan pesantren bias menerima keragaman dapat diliha di kajian pustaka diatas.




3.Solusi
Beberapa solusi dalam penyelesaian berbagai masalah keragaman dalam pesantren dari hasil data dan pembahasan diatas sebagai berikut:
1.Keragaman jangan dijadikan kendala untuk bersatu, karena keragaman merupakan suatu rahmat jika difahami dan disadari lebih mendalam.
2.Jika ada perbedaan yang membedakan dicari saja kesamaan yang menyatukan, karena di tiap hal yang berbeda pasti ada kesamaan.
3.Menyatukan visi dan misi dapat menjadi salah satu cara mencapai persatuan dan kesatuan yang erat.
4.Meningkatkan semanga pluralisme dalam diri masing-masing pribadi.
5.Saling menjaga, saling menhormati, saling mengingatkan dan saling melengkapi menjadi jalan untuk mencapai persatuan.

















BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Keragaman adalah suatu kondisi dalam masyarakat dimana terdapat perbedaan-perbedaan dalam berbagai bidang, terutama suku bangsa dan ras, agama dan keyakinan, ideologi, adap kesopanan serta situasi ekonomi. Masalah-masalah yang menggoyahkan persatuan dan kesatuan antara lain: disharmonisasi, perilaku diskrimainatif, eksklusivisme.
Hal-hal yang dilakukan untuk memperkecil masalah yang diakibatkan oleh pengaruh negatif dari keragaman, yaitu:1) Semangat religius, 2) semangat nasionalisme, 3) semangat pluralisme, semangat humanisme, 4) dialog antar umat beragama, dan 4)membangun pola komunikasi untuk interaksi maupun konfigurasi.
Menurut etimologi (bahasa), kata "Pesantren" berasal dari kata santri dengan awalan pe- dan akhiran -an yang berarti tempat tinggal para santri. Profesor Jahus berpendapat bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji.
Unsur-unsur pesantren terdiri dari kiai, ustadz, santri dan pengurus pesantren menjadi satu komunitas yang hidup bersama dalam satu lingkungan pendidikan berlandaskan nilai-nilai agama Islam.
Ciri kepribadiannya yang mendasari dan meresapi seluruh kegiatan yang dilakukan oleh segenap keluarga pondok dirumuskan oleh KH Imam Zarkasy dengan "Panca Jiwa" pondok, yaitu berupa:1) Keikhlasan,2) Persaudaraan,3) Menolong diri sendiri, dan 5) Kebebasan.
Kekuatan pesantren yang melestarikan cirri-ciri khas dalam interaksi sosial, yaitu antara lain:
1.Adanya hubungan yang akrab antara santri dengan kiai
2.Semangat menolong diri sendiri dan mencintai diri dengan berwiraswasta.
3.Jiwa dan sikap tolong menolong, kesetiakawanan, suasana kebersamaan dan persaudaraan.
4.Disiplin waktu.
5.Hidup hemat dan sederhana.
6.Berani menderita untuk mencapai tujuan.
7.Merintis sikap jujur.
Kegiatan sehari-hari dilingkungan pesantren bagi santri mukim antara lain: Kegiatan belajar antara lain berupa pengajian kitab, mengikuti pelajaran madrasah, kegiatan bahstul masail, syawir, latihan kepemimpinan, praktek pidato,dan lain sebagainya. Kegiatan ibadah meliputi: shalat berjamaah, zdikir, tadarus Al-Qur'an, shalat malam, puasa sunah dan lain-lain. Kegiatan mengurus keperluan sehari-hari misalnya, belanja ke pasar, memasak, mencuci dan acara santai sekedarnya. Amaliah ke masyarakat seperti, kerja bakti, menghadiri undangan masyarakat.

Saran













Daftar Pustaka

A,Rofiq dkk.Pemberdayaan Pesantren:Menuju Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan.Yogyakarta:Pustaka Pesantren.,2005.
Bawani,Imam.Tradisionalisme Dalam Pendidikan Islam:Studi Tentang Pesantren Tradisional.Surabaya:Al Ikhlas.1993.
Elly M Setiadi dkk.Ilmu Sosial dan Budaya Dasar.Jakarta:Kencana Prenada Group. 2007.
Hasyim,M Affan.Menggagas Pesanten Masa Depan: Geliat Suara Santri Untuk Indonesia Baru.Yogyakarta:Qirtas.2003.
Kuntowijoya.Budaya Masyaraka:Edisi Paripurnat.Yogyakarta:Tiara Wacana,2006.
Sasono,Adi dkk.Solusi Islam atas Problematika Umat:Ekonomi,Pendidkan dan Dakwah.Jakarta:Gema Insani Press,Cet I.1998.
Wahid,Abdurrahman.Menggerakkan Tradisi: Esai-esai Pesantren.Yogyakarta:LKiS Pelangi Aksara,Cet II 2007.
Yasmadi.Modernisasi Pesantren.Jakarta Selatan:Ciputat Press.2002.
Yaqin,M Ainul.Pendidikan Multikulturalisme: Cross Cultural Understanding. Yogyakarta:Pilar Media,2005.












MOTTO






                       ﴿ﺍﻠﻬﺠﺮﺍﺓ ٤٩:١٣﴾

"Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal."
(QS. Al-Hujuraat 49:13)









Daftar Isi


Halaman sampul i
Motto ii
Daftar isi iii
BAB I PENDAHULUAN 1
A.Latar belakang 1
B.Rumusan masalah 2
BAB II KAJIAN PUSTAKA 3
A.Keragaman 3
B.Pesantren dan keragaman 4
BAB III PEMBAHASAN 8
A.Data 3
B.Pembahasan 8
C.Solusi 10
BAB IV PENUTUP 11
A.Kesimpulan Dan Saran 11
Daftar pustaka 13

Sosiologi Pendidikan


PERAN PERPUSTAKAAN STAIN KEDIRI
DALAM PERSPEKTIF KONSTRUKTIVISME

Tugas Makalah Laporan ini Disusun Sebagai Tugas Akhir Semester
Mata Kuliah “SOSIOLOGI PENDIDIKAN”

Dosen Pengampu :
Ahmad Taufiq, M.Si






Disusun Oleh :
MOCHAMAD BADRUSALIM
NIM : 932105208

JURUSAN TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) KEDIRI
2010

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Setiap ilmu tidak pernah lepas dari subyek ilmu tersebut yakni manusia itu sendiri, wajar bila kajian tentang manusia, masyarakat (Sosiologi) selalu ada dalam setiap cabang keilmuan apapun, termasuk dalam bidang pendidikan. Sosiologi pendidikan menjadi kajian yang penting bagi calon-calon pelaku pendidikan untuk memahami masyarakat, peserta didik dan lembaga-lembaga terkait.
Kajian sosiologi pendidikan terbagi menjadi tiga, yakni :1. Mikro sosiologi pendidikan, 2. Meso sosiologi pendidikan, dan 3. Makro sosiologi pendidikan. Makalah ini lebih berfokus pada kajian pertama, mikro sosiologi pendidikan dalam perspektif Konstrutivisme, karena perspektif ini diras lebih humanis, menganggap individu sebagai subjek yang aktif dalam proses pendidikan. Adapun kajian perpustakaan disini yakni perpustakaan memiliki andil besar dalam mengawal dan meningkatkan pemahaman individu dalam perspektif kontruktivisme.

B.Rumusan masalah
1.Apa fokus pembahasan makalah?
2.Bagaimana Pengertian Perspektif Konstruktivisme?
3.Bagaimana Struktur Organisasi Perpustakaan STAIN Kediri?
4.Bagaimana Peran dan Fungsi Perpustakaan STAIN Kediri?
5.Bagaimana Perspektif Konstruktivisme di Perpustakaan STAIN Kediri?

BAB II
PEMBAHASAN

A.Fokus Pembahasan
Seperti telah kita ketahui dalam sosiologi pendidikan terdapat tiga kajian utama, yakni :
1.Mikro sosiologi pendidikan, yaitu hubungan antar individu dalam lingkup lembaga pendidkan, misalnya hubungan guru dengan murid, pegawai dll.
2.Meso sosiologi pendidikan, yaitu hubungan antar lembaga dengan lembaga lain masih dalam satu lingkup lembaga pendidikan yang lebih besar. Misal, Unit perpus dengan Dema, Sema, UKM dll.
3.Makro sosiologi pendidikan, yaitu hubungan antara lembaga pendidikan dengan masyarakat.
Makalah ini lebih berfokus pada kajian mikro sosiologi pendidikan, perspektif fenomenologis, dengan penekanan upaya pemahaman apa yang terjadi dibalik fenomena, data informasi atau realitas kehidupan individu, ranah subyektif, menekankan pada upaya memahami dunia makna (the realm of meaning). Sedangkan teori pendidikan yang digunakan adalah konstruktivisme.1
Kontruktivisme mengembangkan pembelajaran berbasis pada pemahaman siswa (student’s understanding), dikendalikan sendiri (self regulated) oleh siswa. Pembelajaran dilakukan bersama (social process), sehingga terjadi interaksi dengan lingkungan dengan proses refleksi (self-reflexion). Pendidik bertugas menfasilitasi dengan menciptakan reinforcement yang bagus, di dalamnya ada proses kreatifitas pemikiran peserta didik.2

B.Pengertian Perspektif Konstruktivisme
Berawal dari kelemahan teori pendidikan yang lebih dahulu berkembang yang hanya memandang sesuatu yang tampak dan dapat diamati, obyektif. Teori konstruktivisme muncul sebagai pengawal proses pendidikan yang lebih humanis dan memandang individu secara utuh3. Teori ini tak bisa lepas dari tokoh pemikiran sosiologi di Jerman pada akhir abad 19 dan awal abad 20, terutama karya Smmel dan Weber 4. Dari beberapa tokoh utama perpektif konstruktivisme kemudian muncul cabang ilmu sosiologi, yakni 5:
a.Sosiologi fenomenologi oleh Weber dan Alfred Schutz
b.Teori Strukturasi di Inggris oleh Anthony Giddens
c.Perspektif Etnometodologi tyang berakar dari Fenomenologi Amerika
Adapun komponen keilmuan dalam perspektif Konstruktivisme adalah:6
Ontologi : Paradigma ini menyatakan bahwa realitas bersifat sosial, dan karena itu akan menumbuhkan bangunan teori atas realitas majemuk dari asyarakat.
Epistemologi : hubungan antara individu dan obyek penelitian bersifat interaktif, sebagai fenomena dilihat dari gejala hubungan yang terjadi dan sangat bersifat subyektif.
Metodologi : penelitian harus dilakukan di luar laboratorium, alam bebas (natural) utuk menangkap fenomena alam apa adanya.
Dalam pendidikan perspektif konstruktivisme, pembelajaran sebagai suatu proses yang dikendalikan sendiri (self regulated) oleh siswa, mengembangkan pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik, pembelajaran dilakukan secara kolaboratif, bersama (social process), adanya interaksi dengan lingkungan dimulai dari proses refleksi (self-reflexion). Inti dari perspektif konstruktivisme adalah peserta didik (individu) telah memiliki pemahaman dan pendidikan bertujuan untuk mengembangkan pemahaman yang dimiliki peserta didik tersebut, secara aktif mengebangkan inisiatif, kreatifitas pemikiran individu dan mengembangkan struktur kognitifnya yang kompleks.7
Teori konstruktivisme dibagi menjadi dua, yaitu :8
1.Konstruktivisme psikologi oleh Piaget, melahirkan teori Kognitif
2.Konstruktivisme sosial oleh Vygotsky, pembelajaran terletak pada interaksi sosial.
Secara lebih umum perspektif konstruktivisme ini lebih menekankan pada proses pengembangan pemahaman yang telah ada pada peserta didik (siswa bukan gelas kosong), dengan cara menfasilitasi proses pendidikan, guru memiliki tugas pokok mengawal siswa selama proses interaksi dengan lingkungan, dimulai dari refleksi dari siswa.

C.Struktur Organisasi Perpustakaan STAIN Kediri
Perpustakaan sebagai salah satu alat vital dalam setiap program pendidikan, pengajaran dan penelitian (research) bagi setiap lembaga ilmu pengetahuan, atau inti dari program pendidikan dalam istilah asingnya “The heart of educational programs”.9
Staf perpustakaan STAIN Kediri terdiri dari pustakawan dan non-pustakawan. Pustakawan melaksanakan tugas sesuai Kepmenpan Nomor:132/KEP/M PAN/12/2003.10
Adapun Susunan Organisasi Perpustakaan STAIN Kediri adah sebagai berikut :11
Kepala Perpustakaan : Ilham Masyhuri, M.H
Administrasi dan internet : Evi Rahmawati, Amd
Pengolahan dan : M Basith Aulawi,S.Pd, S.I.PI (Pustakawan)
pengembangan koleksi Djuwandana Pamungkas, S.E
Pelayanan/referensi : M Bahtiar Aman, S.E
Peminjaman : Achmad Muslih, S.Sos
M Anwar
Pengembangan : Untung Khoirudin, M.Pd.I
Layanan Koleksi Umum : Abdullah Taufiq, M.H
Foto Copy : Putut Miarta
Virtual Library : Komarudin, S.S, M.Hum (Pustakawan)
Pengembangan IT : M Hamim, S.Kom
Pemeliharaan : Yudi Sumarsono
Status perpustakaan sebagai sarana kelengkapan, pusat suatu perguruan tinggi yang bersifat akademis dalam menunjang pelaksanaan Tri Dharma-nya, yakni: pendidikan dan pengajaran, penelitian dan juga pengabdian masyarakat,. Maka perpustakaan perguruan tinggi sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT)12. Hal ini juga berkaitan erat dengan PP No. 30 Tahun 1990, Pasal 34, disebutkan bahwa unit pelaksana tugas perpustakaan perguruan tinggi merupakan unsure penunjang sebagai kelengkapan bagi pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.13
Berdasarkan PP tersebut diatas maka dapat digambarkan sebagai berikut :

Maka kedudukan perpustakaan perguruan tinggi di luar lingkup fakultas dan bertanggung jawab langsung kepada Rektor/Ketua/Direktur yang pendeegasiannya dapat diserahkan kepada wakil rektor bidang akademik.14
Perpustakaan STAIN Kediri secara kebijakan berada dibawah Pembantu Ketua I bidan Akademik Prof H. Fauzan Saleh, P.hd, namun secara struktural pertanggungjawaban pada Pembantu Ketua II Bidang Keuangan Dra Hj Munifah, M.Pd, ungkap Bapak Ilham Masyhuri, M.H selaku kepala perpustakaan ketika diwawancarai.

D.Peran dan Fungsi Perpustakaan STAIN Kediri
Sebelum mengacu pada peran dan fungsi Perpustakaan STAIN Kediri, perlu dikemukakan dahulu hal terkait dari beberapa literatur yang diperoleh.
Dalam bukunya Manajemen Perpustakaan, Lasa memberikan beberapa fungsi perpustakaan, yakni :15
1)Pendidikan
2)Tempat belajar
3)Penelitian sederhana
4)Pemanfaatan teknologi informasi
5)Kelas altrenatif
6)Sumber informasi
Adapun tujuan perpustakaan adalah :16
1)Menumbuhkan minat baca tulis guru dan siswa
2)Mengenalkan teknologi informasi
3)Membiasakan akses informasi secara mandiri
4)Memupuk bakat dan minat
Sedangkan Darmono menambahkan bahwa fungsi perpustakaan juga sebagai fungsi kebudayaan, fungsi rekreasi dan fungsi deposit.17

Berikut profil, peran serta fungsi Perpustakaan STAIN Kediri.18
Visi Perpustakaan
“Pengembangan dan pemberdayaan potensi perpustakaan untuk mendukung upaya peningkatan kualitas keilmuan di STAIN Kediri”.
Misi Perpustakaan
1.Meningkatkan dan mengembangkan koleksi perpustakaan
2.Meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengolahan koleksi perpustakaan
3.Menyelenggarakan kerjasama bidang kepustawanan dengan perpustakaan perguruan tinggi dan instansi terkait.
Tugas Perpustakaan STAIN Kediri
Perpustakaan STAIN Kediri mempunyai tugas menyusun kebijakan dan melaksanakan tugas rutin untuk mengadakan, mengolah dan merawat pustaka serta mendayagunakannya baik bagi civitas akademika STAIN Kediri khususnya maupun masyarakat luas.
Fungsi Perpustakaan STAIN Kediri
1.Pusat pelestarian ilmu pengetahuan agama Islam
2.Pusat belajar
3.Pusat pengajaran (Sumber bahan mata kuliah)
4.Pusat penelitian
5.Pusat penyebaran informasi
6.Rekreasi budaya
7.Fungsi rekreasi
Tujuan utama perpustakaan di perguruan tinggi yang menjadi jantung program pendidikan tentunya berkaitan erat dengan minat baca seluruh elemen (pengguna) yang ada. Mengenai pembinaan minat baca dalam pedoman perpustakaan dinas Depag, yakni :19

a.Memikat Pembaca
Perpustakaan STAIN Kediri telah mampu memikat pengunjungnya dengan koleksi literature yang lengkap, buku-buku agama, umum, majalah, kitab-kitab induk, surat kabar, fasilitas Virtual Library dan juga internet. Namun dari kenyataan memang agak kurang mendapat respon positif, minat berkunjung perpustakaan STAIN Kediri saja masih rendah, apa lagi membaca.
b.Member informasi literature baru
Seperti diungkapkan bapak Ilham, bahwa perpustakaan terbuka kepada pengunjung yang ingin mengajukan judul buku yang diperlukan dan belum tersedia di perpustakaan, namun kebijakan ini juga kurang mendapat tanggapan dari mahasiswa.
Setiap ada program terbaru ataupun koleksi baru di perpustakaan selalu di komunikasikan kepada pengunjung dengan pamphlet-pamflet yang ditempel di pintu perpustakaan atau depan tangga lantai dua gedung erpustakaan. Tercatat bulan Mei 2010 perpustakaan menambah koleksi dengan berlangganan surat kabar Media Indonesia dan majalah Tempo, juga di layanan Virtual Library program Hadith terjemah dan biografi Sembilan Imam menjadi program terbaru yang disediakan setelah sebelumnya juga ditambah aplikasi bahasa Ingris How to Learn English, hal ini semata-amata dalah untuk menarik minat dan informasi bagi pengunjug. Ungkap kepala perpustakaan Bapak Ilham.
c.Mengadakan usaha-usaha pemasyarakatkan perpustakaan
Dari awal mahasiswa masuk STAIN Kediri, pihak perpustakaan STAIN Kediri mengadakan Orientasi Penggunaan Perpustakaan, disampaikan pula tentang prosedur dan pelahsanaan penggunaan perpus, serta fasilitas apa saja yang ada di perpustakaan kepada mahasiswa baru tersebut. Buku pedoman penggunaan perpustakaan juga sebagi upaya pemasyarakatan perpustakaan.

Jadi fungsi dan peran perpustakaan STAIN Kediri saya rasa telah representative, penting dalam proses pendidikan berlangsung. Namun lagi-lagi respon mahasiswa yang kurang positif. Dari data-data yang ada minat kunjung perpustakaan masih kurang.
Disarikan dari media mahasiswa STAIN Kediri Insider Edisi I April 2010, per April 2010 pengunjung perpustakaan rata-rata 321 orang per hari, hanya mencapai 12,2 % dari total jumlah Mahasiswa yang aktif, dari data tersebut bisa disimpulkan minat baca di STAIN Kediri masih rendah.20
PENGUNJUNG PERPUSTAKAAN TAHUN 2009 PER PRODI
Bln
TH
PA
KI
Psi.I
PAI
TBI
PBA
A-IV
EI
AS
DOSEN
KARY
Luar
Jml
Jan
305
170
156
201
2500
1764
290
29
570
280
26
279
30
6600
Feb
67
71
25
36
246
196
98
8
74
65
53
106
34
1079
Mar
315
170
178
211
2801
2908
290
29
617
298
45
279
38
8179
Apr
312
161
123
184
2674
2763
183
13
411
216
29
209
19
7297
Mei
342
172
129
191
2715
2790
291
15
462
261
31
201
23
7623
Jun
293
219
152
210
2401
1785
243
17
591
292
35
219
38
6495
Jul
97
81
29
37
246
182
76
11
81
72
55
116
34
1117
Agust
12
10
18
11
125
67
11
2
9
8
31
30
23
357
Sep
24
29
46
72
211
186
112
10
73
26
37
39
38
903
Okt
321
179
281
219
3012
3109
409
32
903
362
46
289
41
9203
Nop
312
179
125
181
2896
2101
413
19
701
312
42
283
43
7607
Des
317
182
184
219
2519
1862
231
26
671
293
27
281
24
6836
Jml
2717
1623
1446
1772
22346
19713
2647
211
5163
2485
457
2331
385
63296

Ket.

TH
: Tafsir Hadist
PA
: Perbandingan Agama
PAI
: Pendidikan Agama Islam
TBI
: Tadris Bahasa Inggris
A-IV
: Akta IV
EI
: Ekonomi Islam
Dosen
: Dosen STAIN Kediri
Kary
: Karyawan STAIN Kediri
Luar
: Pengunjung selain sivitas akademika STAIN Kediri
PRESENTASE PENGUNJUNG PERPUSTAKAAN TAHUN 2009

Dalam fungsinya bekerjasama dengan instansi kepustakaan dan yang terkait pada hari Selasa, 27 April 2010 di Lt. 4 Gedung Rektorat STAIN Kediri, perpustakaan STAIN Kediri mengadakan kegiatan Semiloka bertajuk "Welcome to Library Campaign" (Gerakan Mencintai Perpustakaan).21
Pembicara Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Perpustakaan STAIN Kediri dengan: Penerbit Bumi Aksara Jakarta, Penerbit Erlangga Jakarta, Toko Buku Cakrawala Lt. 2 Dhoho Plaza Kediri, Dinas Pendidikan Kota Kediri, Senayan Development Community
Materi dan Pembicara
1.Urgensi Perpustakaan dalam menciptakan Budaya Mutu di Sekolah, Lasa HS., Pustakawan Utama pada Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Dosen Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Yogyakarta dan Penulis Buku Manajemen Perpustakaan Sekolah
2.Mengais Yang Terserak: Peran Perpustakaan dalam Rangka Menciptakan Kota Pendidikan, Budi Harianto, Kepala Perpustakaan Kota Malang
3.Peran Perpustakaan dalam Menciptakan Sekolah Unggul, Umi Laila, M.Pd., Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Kediri
4.Aplikasi Teknologi Informasi di Perpustakaan, Tim Perpustakaan STAIN Kediri
Dokumentasi

Ketua STAIN Membuka Acara Semiloka

Kabid Pendidikan Dasar Kota Kediri sedang Menyampaikan Materi

E.Perspektif Konstruktivisme di Perpustakaan STAIN Kediri
Dari hasil wawancara dengan kepala perpustakaan STAIN Kediri Bapak Ilham Masyhuri, M.H, mengenai perspektif konstruktivisme dalam pendidikan, beliau menyatakan bahwa pada kebijakan-kebijakan yang ada di perpustakaan juga mengacu pada perspektif ini. Juga kembali membahas pada fungsi dan tugas perpustakaan diatas, sebagai berikut :
1.Dalam perspektif konstruktivisme perpustakaan STAIN Kediri mengajak budaya baca untuk mengembangkan pengetahuan keilmuan yang di miliki mahasiswa, dengan adanya informasi koleksi baru, orientasi pengguna baru (mahasiswa baru). Hal ini bertujuan yaitu proses pengembangan pengetahuan mahasiswa.
2.Perpustakaan juga terbuka dalam hal pengajuan judul buku yang dibutuhkan pengguna, dan belum menjadi kleksi perpustakaan, demi memenuhi kebutuhan mahasiswa akan bahan pembelajaran atau sekedar membaca.
3.Beberapa bulan yang lalu pihak perpustakaan berusaha sharing dengan mahasiswa, dan lembaga-lembaga terkait seperti Dema, LPM, UKM untuk berdisusi bareng, sharing membicarakan pengembangan perpustakaan, apa kritik atau saran yang bisa diberikan kepihak perpustakaan dan kebutuhan apa yang diperlukan. Namun respon mahasiswa kurang positif. Pada tahab pertama undangan yang hadir hanya lima mahasiswa, pada undangan kedua malah tidak ada yang menghadiri. Ini berarti mahasiswa memang masih rendah terhadap respon perpustakaan tersebut.
4.Dalam aturan-aturan, himbauan dan peringatan berupa tlisan di dalam perpustakaan kurang mendapat I'tikad baik dari mahasiswa. Kesadaran akan aturan masih rendah. Menurut Bapak Ilham, bahwa mungkin mhasiswa stain yang masih didominasi kelas menengah ke bawah, beliau juga mengungkapkan di UI Jakarta dan UGM Yogyakarta jika sudah menjadi aturan atau berupa tlisan mereka sadar betul jika hal tersebut harus ditaati.


BAB III
KESIMPULAN
Pembahasan makalah ini berfokus pada kajian mikro sosiologi pendidikan, yakni hubyungan antar individu deengan individu lain atau lembanga terkait dalam pendidikan.
Dalam pendidikan perspektif konstruktivisme, pembelajaran sebagai suatu proses yang dikendalikan sendiri (self regulated) oleh siswa, mengembangkan pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik, pembelajaran dilakukan secara kolaboratif, bersama (social process), adanya interaksi dengan lingkungan dimulai dari proses refleksi (self-reflexion). Inti dari perspektif konstruktivisme adalah peserta didik (individu) telah memiliki pemahaman dan pendidikan bertujuan untuk mengembangkan pemahaman yang dimiliki peserta didik tersebut, secara aktif mengebangkan inisiatif, kreatifitas pemikiran individu dan mengembangkan struktur kognitifnya yang kompleks.
Struktur organisasi Perpustakaan STAIN Kediri secara kebijakan berada dibawah Pembantu Ketua I bidang Akademik, namun secara struktural pertanggungjawaban pada Pembantu Ketua II Bidang Keuangan. Staf dan karyawan perpustakaan STAIN Kediri terdiri dari pustakawan dan non putakawan.
Dalam perspektif konstruktivisme perpustakaan STAIN Kediri mengajak budaya baca untuk mengembangkan pengetahuan keilmuan yang di miliki mahasiswa, dengan adanya informasi koleksi baru, orientasi pengguna baru (mahasiswa baru). Mengenai perspektif konstruktivisme dalam pendidikan, beliau menyatakan bahwa pada kebijakan-kebjakan yang ada di perpustakaan juga mengacu pada perspektif ini.
Dalam aturan-aturan, himbauan dan peringatan berupa tlisan di dalam perpustakaan kurang mendapat I'tikad baik dari mahasiswa. Kesadaran akan aturan masih rendah. Status perpustakaan sebagai sarana kelengkapan, pusat suatu perguruan tinggi yang bersifat akademis dalam menunjang pelaksanaan Tri Dharma-nya, yakni: pendidikan dan pengajaran, penelitian dan juga pengabdian masyarakat
DAFTAR PUSTAKA

Buku Pedoman Perpustakaan Dinas Departemen Agama RI.DEPAG RI, DIrjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.2001.
Darmono.Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah.Jakarta:Grasindo.2004.
Kartono, Kartini.Pengantar Metodologi Riset Sosial.Bandung:Mandar Maju.1990.
Maliki, Zainuddin.Sosiologi Pendidikan.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press. 2008.
Masyhuri, Ilham dkk. Buku Panduan Perpustakaan STAIN Kediri. Kediri: Perpustakaan STAIN Kediri.2009.
S, Lasa H.Manajemen Perpustakaan Sekolah.Yogyakarta:Pinus Book Publisher. 2007.
---------.Manajemen Perpustakaan.Yogyakarta:Gama Media.2008.
Salim, Agus.Teori dan Paradigma Penelitian Sosial.Yogyakarta:Tiatra Wacana. 2001.
Soedibyo, Noerhayati.pengelolaan Perpustakaan.Bandung:Alumni.1987.
Subiyanto, Arief.Metode dan teknik Penelitian Sosial.Yogyakarta:Andi.2007.
Usman, Husaini dan Purnomo Setiady Akbar.Metodologi penelitian sosial.Jakarta: Bumii Aksara.2008.
Wrong, Dennis H.Max Weber: sebuah khazanah, Tertj A Asnawi.Yogyakarata:Ikon Teralitera.2003.

Ilmu Alamiah Dasar (Aborsi)

ABORSI

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Pada Mata Kuliah “Ilmu Alamiah Dasar (IAD)”

Dosen Pengampu:
Dra. Fartika Ifriqia, M.Pd




Disusun oleh:

Mochamad Badrusalim : 9321 052 08
Kelas : B



JURUSAN TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) KEDIRI
2008


KEHIDUPAN manusia dimulai saat
setelah pembuahan terjadi. Jika 
dengan SADAR dan dengan SEGALA cara
kita MENGAKHIRI hidup manusia tak 
berdosa, berarti kita melakukan suatu
perbuatan TAK BERMORAL dan asosial.
Tidak semestinya KITA membiarkan
penghentian nyawa hidup siapapun
.........atau HIDUP kita sebagai MANUSIA
menjadi TIDAK BERHARGA LAGI.


A.Definisi Aborsi
Menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah “Abortus”. Berarti pengeluaran hasil konsupsi (pertemuan) sel telur dan sperma) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan.1
Aborsi secara umum adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) sebelum buah kehamilan tersebut mampu untuk hidup di luar kandungan.
Menurut ensiklopedia Indonesia, aborsi adalah pengakhiran kehamilan sebelum masa gestasi 28 minggu atau sebelum janin mencapai berat 1000 gram. Secara ringkas aborsi adalah sutu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk bertumbuh.2

B.Macam-mcam Aborsi
1.Aborsi spontan/alami ( abortus spontanius).
Aborsi berlngsung tampa tindakan apapun. Kembanyakan disebabkan karena kurng baiknya kualitas sel telur dan sel sperma.
a.Abortus immineus (theartened abortion) yaitu adnya gejal-gejal yang mengancam akan terjadi aborsi,
b.Abortus incipiens (inevitable abortion), adalah gejal akn terjadi aborsi, namun buah kehamilan masin berada di dalm rahim,
c.Abortus incompletes; apabila sebagian dari buah kehamiln sudah keluar dari sisanya masih berada di dalam rahim.
d.Abortus completes yaitu pengeluar keseluruan buah kehamilan dari rahim.3
2.Aborsi buatn atau sengaja (abortus provacotus criminalis )
Yaitu pengakhiran kehamilan sebelum usia 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh calon ibu maupun si pelaksana aborsi (dalam hal ini yang melakukan adalah dokter, bidan atau dukun beranak)
3.Aborsi terapeutik atau medis (abortus provocatus thera peutikum).
Pengguguran kandungn buatan yang dilakukan atas indikasi medik, sebagai contoh, calon ibu yang sedang hamil tetapi mempunyai penyakit darah tinggi menahan atau penyakit jantung yang parah yang dapat membahayakan baik calon ibu maupun janin yang dikandungnya, tetapi ini semu atas pertimbangan medik yang matang dan tidak tergesa-gesa.4

C.Tindakan Aborsi
1.Aborsi dilakukan sendiri.
Aborsi yang dilakukan sendiri dilakukan dengan cara memakan obat-obat yang membahayakan janin, atau dengan melakukan perbuatan-perbuatan atau aktifitas yang dengan sengaja ingin menggunakn janin.
2.Aborsi dilakukan orang lain
Orang lain di sini bisa dokter, bidang atau dukun beranak.
Cara-cara yang digunakan juga beragam, aborsi yang dilakukn oleh dokter atau bidang pada umumnya dilakukan dalam lima tahap, yaitu:
a.Bayi dibunuh dengan cara ditusuk atau diremukan di dalam kandungan.
b.Bayi dipotong-potong tubuhnya agar mudah dikeluarkan.
c.Potongan bayi dikeluarkan satu persatu dari dalam kandungan.
d.Potongan disusun kembali untuk memastikan sudah lengkap dan tidak tersisa.
e.Potongn-potongan bayi kemudian dibuang ke tempat sampah atau sungai, dikubur, atau dibakar ditungku.5

Sedangkan seorang dukun beranak biasanya melakukan aborsi dengan cara memberi ramuan obat pada calon ibu dan mengurut perut calon ibu untuk mengeluarkan secara paksa janin dalam kandungan. Hal ini sangat berbahaya, sebab pengurutan velum tentu membuahkan hasil yang diinginkan dan kemungkinan membawa cacat bagi janin dan trauma berat bagi calon ibu.
Cara yang dilakukan dalam kasus aborsi di klinik-klinik aborsi bermcam-macam, tergantung umur kandungan dan besarnya resiko bagi calon ibu. Cara-cara aborsi terbagi atas:
1)Aborsi untuk kehamilan sampai 12 minggu. Aborsi ini dilakukan dengan MR (monstrual regulatron) yaitu dengan penyedotan, semcam alat penghisab debu yang bisa, tetapi 2 kali lebih kuat.
2)Pada janin yang lebih besar sampai 16 minggu, dilakukan dengan cara dilatasi dan curetage.
3)Aborsi pad janin sampai 24 minggu.
4)Di sini bayi sudah besar sekali, sebab itu biasnya harus dibunuh terlebih dahulu dengan dengan meracuni misalnya dengan cairan garam yang pekat seperti saline, dengan jarum khusus, obat itu langung disuntikan ke dalam rahimnya, kedalam asi ketuban sehingga janin keracunan, kulitnya terbakar, lalu mati.
5)Aborsi pada janin di atas 28 minggu.
6)Biasanya dilakukan dengan suntikan prostaglenin sehingga terjadi proses kalahiran buatan dan anak itu dipaksa untuk keluar dari tempat pemeliharaan dan perlindungannya.
7)Aborsi dengan cara oprasi sesaria seperti pada kehamilan biasa.6

D.Alasan Dilakukan Aborsi
1.Karena ada suatu penyakit yang mengharuskan aborsi
Hal ini jika aborsi tidak dilakukan dapat membahayakan bagi calon ibu maupun janin, maka perlu dilaksanakan aborsi, tentunya dengan pertimbangan dan persetujuan dokter ahli yang menangani penyakit tersebut.
2.Tidak ingin dimiliki anak karena khawatir mengganggu karir, sekolah dan tanggung jawab lain
Bagi wanita karir bisanya beranggapan bahwa memiliki anak adalah suatu kekurangan dalam dirinya dan hal itu akan mengakibatkan karir menurun, contohnya banyak sekali di kalangan artis yang tidak mau megakui bahwa ia telah memiliki orang anak hanya karena gengsi dan demi karirnya.
3.Tidak memiliki uang untuk merawat anak
Bagi beberapa orang beranggapan bahwa memiliki anak adalah beban yang akan menambah beban bagi hidupnya dalam QS. Bani Israil: 31.

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut melarat. Kamilah yang memberi rizki kapada mereka dan kamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah perbuaatn dosa”.
4.Tidak ingin memiliki anak tanpa ayah
Biasanya akibat dari hubungan seks di luar nikah atau hubungan gelap (selingkuh) yang bila nanti ia sampai hamil dan melahirkan anak-anak menimbulkan aib yang begitu mendalan dalam dirinya dan kelurganya.
5.Masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu
Terutam bagi kaum remaja (hamil di luar nikah) yang akan mengakibatkan aib keluarga
6.Sudah memiliki banyak anak
Hal ini hampir sama pada poin 2 di atas, karena takut dengan kehadirannya seorang anak lagi akan menambah bab hidupnya dan memperburuk ekonomi keluarga.
Tindakan aborsi di sini boleh dilakukan bila keadaan benar-benar terpaksa demi menyelamatkan dan melidungi sang ibu, sesuai dengan kaidah.

"Mengerjakan yang lebih ringan dari dua hal yang berbahaya adalah wajib” 7

E.Hubungan Kasus dengan IAD
Secara umum proses reproduksi manusia terbagi menjadi 3 periode:
1.Pembuahan sel telur olah sel sperma yang di mulai dari pertemuan antar sel telur dan sel sprema (konsupsi) di dalam tubavalapi (saluran induk telur)
2.Pertumbuhan hasil kosepsi (hasil pembuahan) yang mengalami pembuluhan-pembuluhan sel dan terus berkembang hingga menjadi janin yang sempurna untuk siap dilahirkan
3.Proses kelahiran (kehidupan baru), yaitu bagi bayi yang telah menglami pertumbuhan bentuk tubuh secara lengkap dan sempurna serta tengah dalam waktu tertentu dalam kandungan (kurag labih 9 bulan 10 hari).
Proses aborsi yang dilakukan adalah pada fase ke dalam di atas, yaitu pada masa dalam kandungan. Jadi, sudah jelas bahwa aborsi erat hubungannya dengan reproduksi dan reproduksi merupakan salah satu materi yang dibahas dalam IAD.

F.Pandangan Agama Tentang Aborsi
1.Yang membolehkan aborsi
a.Manurut Dr. Abdurrahman al-Baghdadi (1998), menyebutkan bahwa aborsi dapat dilakukan sebelum ruh ditiupkan (kurang dari 4 bulan), tapi sebagian ulama memakruhkan.8
b.Muhammad Ramli membolehkan karena dengan alasan belum ada makhluk yang beragama.9
Pendapat-pendapat di atas disadarkan pada hadits Nabi dan Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah berkata:
“Sesungguhnya setiap kamu terkumpul kejadiannya dalam perut ibumu selama 40 hari dalam bentuk ‘nuthfah’, kemudian dalam bentuk ‘alaqah’ selama itu pula kemudian ditiupkan ruh kepadanya”. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ahmad dan Tirmidzi).

2.Yang mengharamkan Aborsi
a.Aborsi yang dilakukan sebelum atau sesudah peniupan ruh tetap haram yaitu menurut Ibnu Hajar dalam kitabnya at-Thfah dan al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin. Bahkan menurut Mahmud Syaltul, mantan rector Universitas al-Azhar Mesir bahwa sejak bertemunya sel sperma dengan ovum (sel telur) maka aborsi adalah haram, sebab sudah ada kehidupan pada kandungan yang sedang mengalami pertumbuhan dan persiapan untuk menjadi makhluk yang senyawa yang bernama manusia yang harus dihormati dan dilindngi eksistensinya
b.Menurut Ahli Fuqoha menyepakati bahwa aborsi yang dilakukan setelah peniupan ruh (empat bulan) adlaah haram hukumnya
c.Menurut Syaikh Abdul Qadim Zalluna dan Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, hokum syara’ yang lebih rajah (kuat) adalah sebagai barikut. Jika aborsi dilakukan sel telah 40 hari, atau 42 hari dari usia kehamilan dan pada saat permulaan pembentukan janin, maka hukumnya haram. Dalam hal ini hukumnya sama dengan keharaman aborsi stelah peniupan ruh.10
d.Pendapat ini dirujukkan pada sebuha hadits Nabi SAW:
“Jika nutfah (gumpalan darah) telah lewat empat puluh malam maka Allah mengutus seorang melaikat padanya, lalu dia maka Allah menguutus terrsebut, dia membuat pendengarannya, penglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan tulang belulang lalu malaikat itu bertanya (kepada Allah): Ya Tuhanku, apakah dia (akan engkau tetapkan) menjadi laki-laki tau perempuan? Maka Allah kemudian memberi keputusan”.
Di dalam al-Qur’an banyak dijelaskan tentang kemuliaan manusia yang dilarang untuk membunuhnya (aborsi).
1.Manusia (beberapa kecilnya) adlaah ciptakan Allah yang mulia

“ ……….Dan sesungguhnya kami memuliakan Bani Adam (umat manusi)……….” (QS. Bani Isroil: 70)

2.Membunuh satu nyawa sama dengan membunuh semua orang
ô`ÏB È@ô_r& y7Ï9ºsŒ $oYö;tFŸ2 4’n?tã ûÓÍ_t/ Ÿ@ƒÏäÂuŽó Î) ¼çm¯Rr& `tB Ÿ@tFs% $G¡øÿtR ÎŽötóÎ/ C§øÿtR ÷rr& 7Š$|¡sù ’Îû ÇÚö‘F{$# $yJ¯Rr'x6sù Ÿ@tFs% }¨$¨Z9$# $Yè‹ÏJy_ ô`tBur $yd$uŠômr& !$uK¯Rr'x6sù $uŠômr& }¨$¨Y9$# $Yè‹ÏJy_ 4 ô‰s)s9ur óOßgø?uä!$y_ $uZè=ߙ①ÏM»uZÉit7ø9$$Î/ ¢OèO ¨bÎ) #ZŽÏWx. Oßg÷YÏiB y‰÷èt/ šÏ9ºsŒ ’Îû ÇÚö‘F{$# šÇÌËÈcqèùÎŽô£ßJs9
“Barang siapa membunuh seorang manusia, bukan karena sebab-sebab yang mewajibkan qishash, atau bukan karena kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan telah membunuh manusia seluruhnya”. (Q.S. Al-Maidah: 32)
3.Islam melarang aborsi dengan alasan tidak memiliki biaya dan takut miskin
ŸÇÌÊÈ wur (#þqè=çGø)s? öNä.y‰»s9÷rr& spu‹ô±yz 9,»n=øBÎ) ( ß`øtªU öNßgè%ã—ötR ö/ä.$­ƒÎ)ur 4 ¨bÎ) öNßgn=÷Fs% tb%Ÿ2 $\«ôÜÅz #ZŽÎ6x.
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan, kamilah
yang akan memberi rizi kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besa”. (QS. Bani Israil: 31).
4.Sejak berupa janin Allah teah mengenal kita
tûïÏ%©!$# tbqç7Ï^tGøgs† uŽÈµ¯»t6x. ÉOøOM}$# |·Ïmºuqxÿø9$#ur žwÎ) zNuH©>9$# 4 ¨bÎ) y7­/u‘ ßìÅ™ºur ÍotÏÿøóyJø9$# 4 uqèd ÞOn=÷ær& ö/ä3Î/ øŒÎ) /ä.r't±Sr& šÆÏiB ÇÚö‘F{$# øŒÎ)ur óOçFRr& ×p¨ZÅ_r& ’Îû ÈbqäÜç/ öNä3ÏG»yg¨Bé& ( Ÿxsù (#þq’.t“è? öNä3|¡àÿRr& ( uqèd ÞÇÌËÈOn=÷ær& Ç`yJÎ/ #’s+¨?$#
“Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu” (QS. An-Najm: 32)
5.Tidak ada kehamilan (kecelakaan atau disengaja) semuanya adalah kehendak Allah SWT
ÇÎÈ $¨B ß,Î7ó¡n@ ô`ÏB >p¨Bé& $ygn=y_r& $tBur tbrãÏ‚ø«tFó¡tƒ
“Dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi” (QS. Al-Hajj: 5).

G.Resiko Aborsi
1.Resiko kesehatan dan keselamatan fisik
a.Kematian mendadak karena pendarahan hebat
b.Kematian mendadak karena pembiasaan gagal
c.Kematian secara lambat akibat infeksi serius di sekitar kandungan
d.Rahim yang sobek (uterine pertoratron)
e.Kerusakan leher rahim (cervical laceratron) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya
f.Kanker peyudara (tidak seimbang antara hormone esterogen pada wanita)
g.Kanker indung telur (ovarian cancer)
h.Kanker lebehr rahim (cervical laceratron)
i.Kanker hati (liver cancer)
j.Kelainan pada placenta/ari-ari (placenta previa)
k.Sterril atau menjadi mandul (ectopic pregnancy)
l.Infeksi ronggo panggul (pelvil inflamamatory disense)
m.Infeksi pada lapisan rahim (endome triosis)
2.Resiko mental
a.Kehilangan harga diri
b.Berteriak-teriak histeris
c.Mimpi buruk mengenai bagi
d.Ingin bunuh diri
e.Mencoba obat-obat terlarang
f.Tidak bias menimati lagi hubungan seksual
g.Selalu dihantui rasa bersalah
H.Solusi
1.Penyuluhan-penyuluhan tentang bahaya aborsi
2.Keluarga sebagi pemantai sekaligus menjaga anak-anaknya agar tidak terlibat dalam pergaulan bebas, seks bebas hingga berujung pada kehamilan di luar nikah
3.Meningkatkan moral kemanusiaan
4.Membentengi diri dengan nilai-nilai agama dalam kehidupan
5.Menanamkan dalam-dalam bahwa tindakan aborsi adlah suatu perbuatan dosa, dan dosa kecil atau besar akan ada pertanggung jawabannya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Baghdadi, Abdurrahman. Emansipasi, Adakah dalam Islam?. Jakarta: Gema Insani Press, 1998.
Anshor, Maria Ulfah. Fikih Abosrsi: Wacana Peguatan Hak Reproduksi Perempuan. Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2006.
Esposito, John L. Islam Aktual, Depok, Inisiasi Prerss, 2005.
Mahjudin, Masailul Fiqhiyyah, Berbagai Kasus Yang Dihadapi Hukum Islam Masa Kini, Jakarta, Kalam Mulya, 1990.
Suhendi, Hendi. Fiqih Muamalah. Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2002.
http://www.aborsi.org
http://genetik2000.com
http://konsultasi. Word press.com/2007/01/aborsi-dalam–pandangan-islam/

Inovasi Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Tidak bisa diragukan lagi bahwasanya manusia tak akan terlepas dengan mengeksplorasi segala sumber daya yang dimilikinya. Dengan cara mencurahkan segala daya dan kemampuanya untuk selalu berinofasi menemukan sesuatu yang baru yang dapat membantu hidupnya menjadi lebih baik. Jika manusia tidak menggali segala kemampuanya maka ia akan tertinggal bahkan tergerus oleh zaman yang selalu berkembang.Dalam dunia pendidikan Inovasi adalah hal yang mutlak dilakukan karena tanpa inovasi akan terjadi kemandekan pada dunia pendidikan yang kemudian berimbas pada pada elemen-elemen kehidupan yang lain seperti politik, ekonomi, social dan lain-lain.
B.Rumusan masalah
1.Pengertian Inovasi Pendidikan
2.Inovasi pendidikan dan model pembelajaran di Indonesia
3.Kendala-kendala Dalam Inovasi Pendidikan
4.Faktor-Faktor yang Perlu Diperhatikan Dalam Inovasi pendidikan
5.Proses Inovasi

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Inovasi Pendidikan

Berbicara mengenai inovasi (pembaharuan) mengingatkan kita pada istilah invention dan discovery. Invention adalah penemuan sesuatu yang benar-benar baru artinya hasil karya manuasia. Discovery adalah penemuan sesuatu (benda yang sebenarnya telah ada sebelumnya. Dengan demikian, inovasi dapat diartikan usaha menemukan benda yang baru dengan jalan melakukan kegiatan (usaha) invention dan discovery. Dalam kaitan ini Ibrahim (1989) mengatakan bahwa inovasi adalah penemuan yang dapat berupa sesuatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati sebagai sesuatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat). Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Inovasi pendidikan adalah penemuan yang dapat berupa sesuatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati sebagai sesuatu hal yang baru bagi dunia pendidkan. Contoh bidangnya adalah Managerial, Teknologi, dan Kurikulum inovasi yang berbentuk metode dapat berdampak pada perbaikan, meningkatkan kualitas pendidikan serta sebagai alat atau cara baru dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam kegiatan pendidikan. Dengan demikian metode baru atau cara baru dalam melaksanakan metode yang ada seperti dalam proses pembelajaran dapat menjadi suatu upaya meningkatkan efektivitas pembelajaran. Sementara itu inovasi dalam teknologi juga perlu diperhatikan mengingat banyak hasil-hasil teknologi yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, seperti penggunaannya untuk teknologi pembelajaran, prosedur supervise serta pengelolaan informasi pendidikan yang dapat meningkatkan efisiensi pelaksanaan pendidikan.

B. Inovasi pendidikan dan model pembelajaran di Indonesia
a.Top down inovation
Inovasi model Top Down ini sengaja diciptakan oleh atasan (pemerintah) sebagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, ataupun sebagai usaha untuk meningkatkan efisiensi dan sebaginya. Inovasi seperti ini dilakukan dan diterapkan kepada bawahan dengan cara mengajak, menganjurkan dan bahkan memaksakan apa yang menurut pencipta itu baikuntuk kepentingan bawahannya. Dan bawahan tidak punya otoritas untuk menolak pelaksanaannya.Contoh adalah yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasinal selama ini. Seperti penerapan kurikulum, kebijakan desentralisasi pendidikan dan lain-lain.
b. Bottom up Inovation
Yaitu model ionovasi yang bersumber dan hasil ciptaan dari bawah dan dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mutu pendidikan. Biasanya dilakukan oleh para guru.
c. Desentralisasi dan Demokratisasi pendidikan.
Perjalanan pendidikan nasional yang panjang mencapai suatu masa yang demokratis kalau tidak dapat disebut liberal-ketika pada saat ini otonomisasi pendidikan melalui berbagai instrument kebijakan, mulai UU No. 2 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, privatisasi perguruan tinggi negeri-dengan status baru yaitu Badan Hukum Milik Negara (BHMN) melalui PP No. 60 tahun 2000, sampai UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah yang mengatur konsep, sistem dan pola pendidikan, pembiayaan pendidikan, juga kewenangan di sektor pendidikan yang digariskan bagi pusat maupun daerah. Dalam konteks ini pula, pendidikan berusaha dikembalikan untuk melahirkan insan-insan akademis dan intelektual yang diharapkan dapat membangun bangsa secara demokratis, bukan menghancurkan bangsa dengan budaya-budaya korupsi kolusi dan nepotisme, dimana peran pendidikan (agama, moral dan kenegaraan) yang didapat dibangku sekolah dengan tidak semestinya.Jika kita merujuk pada undang-undang Undang-Undang No.22 Tahun 1999 tentang otonomi pemerintahan daerah maka Desentralisasi pendidikan bisa diartikan sebagai pemberian kewenangan untuk mengatur pendidikan di daerah. Ada dua konsep desentralisasi pendidikan. Pertama, desentralisasi kewenangan di sektor pendidikan. Desentralisasi lebih kepada kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Kedua, desentralisasi pendidikan dengan fokus pada pemberian kewenangan yang lebih besar di tingkat sekolah. Konsep pertama berkaitan dengan desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan dari pusat ke daerah sebagai bagian demokratisasi. Konsep kedua lebih fokus mengenai pemberian kewenangan yang lebih besar kepada manajemen di tingkat sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
d. KTSP
KTSP yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan kurikulum yang bersifat operasional dan dilaksanakan dimasing-masing tingkat satuan pendidikan. Landasan hukum kurikulum ini yaitu Undang-undang Sikdiknas No. 20 Tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan disusun oleh masing-masing sekolah dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Penyerahan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada tiap sekolah dengan mengacu pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan bertujuan agar kurikulum tersebut dapat disesuaikan dengan karakter dan tingkat kemampuan sekolah masing-masing.Pedoman penilaian dan penentuan kelulusan peserta didik mengacu pada SKL yang meliputi kompetensi untuk kelompok mata pelajaran atau kompetensi untuk seluruh mata pelajaran yang dinilai berdasarkan kualifikasi kemampuan mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan. Standar isi merupakan ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam persyaratan kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi merupakan pedoman untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan.

e. Quantum learning
Quantum learning ialah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat. Beberapa teknik yang dikemukakan merupakan teknik meningkatkan kemampuan diri yang sudah populer dan umum digunakan. Namun, Bobbi DePorter mengembangkan teknik-teknik yang sasaran akhirnya ditujukan untuk membantu para siswa menjadi responsif dan bergairah dalam menghadapi tantangan dan perubahan realitas (yang terkait dengan sifat jurnalisme). Quantum learning berakar dari upaya Georgi Lozanov, pendidik berkebangsaan Bulgaria. Ia melakukan eksperimen yang disebutnya suggestology (suggestopedia). Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detil apa pun memberikan sugesti positif atau negatif. Untuk mendapatkan sugesti positif, beberapa teknik digunakan. Para murid di dalam kelas dibuat menjadi nyaman. Musik dipasang, partisipasi mereka didorong lebih jauh. Poster-poster besar, yang menonjolkan informasi, ditempel. Guru-guru yang terampil dalam seni pengajaran sugestif bermunculan. Selanjutnya Porter dkk mendefinisikan quantum learning sebagai “interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya.” Mereka mengasumsikan kekuatan energi sebagai bagian penting dari tiap interaksi manusia. Dengan mengutip rumus klasik E = mc2, mereka alihkan ihwal energi itu ke dalam analogi tubuh manusia yang “secara fisik adalah materi”. “Sebagai pelajar, tujuan kita adalah meraih sebanyak mungkin cahaya: interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya”. Pada kaitan inilah, quantum learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar

f. Contextual Teaching and Learning /CTL
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasilDalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual
g. cooperative learning
Model pembelajaran Cooperative Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pengajaran Cooperative Learning dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok (Johnson & Johnson, 1993), yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok.Falsafah yang mendasari pembelajaran Cooperative Learning (pembelajaran gotong royong) dalam pendidikan adalah “homo homini socius” yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih.Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.

g. Active learning
Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.

h. PAKEM
Adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Sehingga, jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.
C. Kendala-kendala Dalam Inovasi Pendidikan
Kendala-kendala yang mempengaruhi keberhasilan usaha inovasi pendidikan a.konflik dan motivasi yang kurang sehat b. lemahnya berbagai faktor penunjang sehingga mengakibatkan tidak berkembangnya inovasi yang dihasilkan c. keuangan (finacial) yang tidak terpenuhi d. penolakan dari sekelompok tertentu atas hasil inovasi e. kurang adanya hubungan sosial dan publikasi (Subandiyah 1992:81).
D. Penolakan (Resistance)
Ada beberapa hal mengapa inovasi sering ditolak atau tidak dapat diterima oleh para pelaksanaan inovasi di lapangan atau di sekolah sebagai berikut:
1.Sekolah atau guru tidak dilibatkan dalam proses perencanaan, penciptaan dan bahkan pelaksanaan inovasi tersebut, sehingga ide baru atau inovasi tersebut dianggap oleh guru. atau sekolah bukan miliknya, dan merupakan kepunyaan orang lain yang tidak perlu dilaksanakan, karena tidak sesuai dengan keinginan atau kondisi sekolah mereka.
2.Guru ingin mempertahankan sistem atau metode yang mereka lakukan saat sekarang, karena sistem atau metode tersebut sudah mereka laksanakan bertahun-tahun dan tidak ingin diubah. Disamping itu sistem yang mereka miliki dianggap oleh mereka memberikan rasa aman atau kepuasan serta sudah baik sesuai dengan pikiran mereka. Hal senada diungkapkan pula Day dkk (1987) dimana guru tetap mempertahankan sistem yang ada.
3.Inovasi yang baru yang dibuat oleh orang lain terutama dari pusat (khususnya Depdiknas) belum sepenuhnya melihat kebutuhan dan kondisi yang dialami oleh guru dan siswa. Hal ini juga diungkapkan oleh Munro (1987:36) yang mengatakan bahwa "mismatch between teacher's intention and practice is important barrier to the success of the innovatory program".
4.Inovasi yang diperkenalkan dan dilaksanakan yang berasal dari pusat merupakan kecenderungan sebuah proyek dimana segala sesuatunya ditentukan oleh pencipta inovasi dari pusat. Inovasi ini bisa terhenti kalau proyek itu selesai atau kalau finasial dan keuangannya sudah tidak ada lagi. Dengan demikian pihak sekolah atau guru hanya terpaksa melakukan perubahan sesuai dengan kehendak para inovator di pusat dan tidak punya wewenang untuk merubahnya.
5.Kekuatan dan kekuasaan pusat yang sangat besar sehingga dapat menekan sekolah atau guru melaksanakan keinginan pusat, yang belum tentu sesuai dengan kemauan mereka dan situasi sekolah mereka.
Faktor-Faktor yang Perlu Diperhatikan Dalam Inovasi pendidikan

Untuk menghindari penolakan seperti yang disebutkan di atas, faktor-faktor utama yang perlu diperhatikan dalam inovasi pendidikan adalah guru, siswa, kurikulum dan fasilitas, dan program/tujuan,
KETERANGAN:

1. Guru
Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Kepiawaian dan kewibawaan guru sangat menentukan kelangsungan proses belajar mengajar di kelas maupun efeknya di luar kelas. Guru harus pandai membawa siswanya kepada tujuan yang hendak dicapai. Ada beberapa hal yang dapat membentuk kewibawaan guru antara lain adalah penguasaan materi yang diajarkan, metode mengajar yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, hubungan antar individu, baik dengan siswa maupun antar sesama guru dan unsur lain yang terlibat dalam proses pendidikan seperti adminstrator, misalnya kepala sekolah dan tata usaha serta masyarakat sekitarnya, pengalaman dan keterampilan guru itu sendiri. Dengan demikian, maka dalam pembaharuan pendidikan, keterlibatan guru mulai dari perencanaan inovasi pendidikan sampai dengan pelaksanaan dan evaluasinya memainkan peran yang sangat besar bagi keberhasilan suatu inovasi pendidikan. Tanpa melibatkan mereka, maka sangat mungkin mereka akan menolak inovasi yang diperkenalkan kepada mereka. Hal ini seperti diuraikan sebelumnya, karena mereka menganggap inovasi yang tidak melibatkan mereka adalah bukan miliknya yang harus dilaksanakan, tetapi sebaliknya mereka menganggap akan mengganggu ketenangan dan kelancaran tugas mereka. Oleh karena itu, dalam suatu inovasi pendidikan, gurulah yang utama dan pertama terlibat karena guru mempunyai peran yang luas sebagai pendidik, sebagai orang tua, sebagai teman, sebagai dokter, sebagi motivator dan lain sebagainya. (Wright:1987)

2. Siswa
Sebagai obyek utama dalam pendidikan terutama dalam proses belajar mengajar, siswa memegang peran yang sangat dominan. Dalam proses belajar mengajar, siswa dapat menentukan keberhasilan belajar melalui penggunaan intelegensia, daya motorik, pengalaman, kemauan dan komitmen yang timbul dalam diri mereka tanpa ada paksaan. Hal ini bisa terjadi apabila siswa juga dilibatkan dalam proses inovasi pendidikan, walaupun hanya dengan mengenalkan kepada mereka tujuan dari pada perubahan itu mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan, sehingga apa yang mereka lakukan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dilaksanakan dengan konsekwen. Peran siswa dalam inovasi pendidikan tidak kalah pentingnya dengan peran unsur-unsur lainnya, karena siswa bisa sebagai penerima pelajaran, pemberi materi pelajaran pada sesama temannya, petunjuk, dan bahkan sebagai guru. Oleh karena itu, dalam memperkenalkan inovasi pendidikan sampai dengan penerapannya, siswa perlu diajak atau dilibatkan sehingga mereka tidak saja menerima dan melaksanakan inovasi tersebut, tetapi juga mengurangi resistensi seperti yang diuraikan sebelumnya.

3. Kurikulum
Kurikulum pendidikan, lebih sempit lagi kurikulum sekolah meliputi program pengajaran dan perangkatnya merupakan pedoman dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Oleh karena itu kurikulum sekolah dianggap sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam proses belajar mengajar di sekolah, sehingga dalam pelaksanaan inovasi pendidikan, kurikulum memegang peranan yang sama dengan unsur-unsur lain dalam pendidikan. Tanpa adanya kurikulum dan tanpa mengikuti program-program yang ada di dalamya, maka inovasi pendidikan tidak akan berjalan sesuai dengan tujuan inovasi itu sendiri. Oleh karena itu, dalam pembahruan pendidikan, perubahan itu hendaknya sesuai dengan perubahan kurikulum atau perubahan kurikulum diikuti dengan pembaharuan pendidikan dan tidak mustahil perubahan dari kedua-duanya akan berjalan searah.

4. Fasilitas
Fasilitas, termasuk sarana dan prasarana pendidikan, tidak bisa diabaikan dalam dalam proses pendidikan khususnya dalam proses belajar mengajar. Dalam pembahruan pendidikan, tentu saja fasilitas merupakan hal yang ikut mempengaruhi kelangsungan inovasi yang akan diterapkan. Tanpa adanya fasilitas, maka pelaksanaan inovasi pendidikan akan bisa dipastikan tidak akan berjalan dengan baik. Fasilitas, terutama fasilitas belajar mengajar merupakan hal yang esensial dalam mengadakan perubahan dan pembahruan pendidikan. Oleh karena itu, jika dalam menerapkan suatu inovasi pendidikan, fasilitas perlu diperhatikan. Misalnya ketersediaan gedung sekolah, bangku, meja dan sebagainya.

5. Lingkup Sosial Masyarakat.
Dalam menerapakan inovasi pendidikan, ada hal yang tidak secara langsung terlibat dalam perubahan tersebut tapi bisa membawa dampak, baik positif maupun negatif, dalam pelaklsanaan pembahruan pendidikan. Masyarakat secara tidak langsung atau tidak langsung, sengaja maupun tidak, terlibat dalam pendidikan. Sebab, apa yang ingin dilakukan dalam pendidikan sebenarnya mengubah masyarakat menjadi lebih baik terutama masyarakat di mana peserta didik itu berasal. Tanpa melibatkan masyarakat sekitarnya, inovasi pendidikan tentu akan terganggu, bahkan bisa merusak apabila mereka tidak diberitahu atau dilibatkan. Keterlibatan masyarakat dalam inovasi pendidikan sebaliknya akan membantu inovator dan pelaksana inovasi dalam melaksanakan inovasi pendidikan.

E. Proses Inovasi

Proses Inovasi berkaitan dengan bagaimana suatu inovasi itu terjadi, di sini ada unsur keputusan yang mendasarinya, oleh karena itu proses inovasi dapat dimaknai sebagai proses keputusan Inovasi (Innovation decision Process). Menurut Everett M Rogers proses keputusan inovasi adalah the process through which abn individual (or other decision making unit) passes from first knowledge of an innovation,to forming an attitude toward the innovation, to a decision to adopt or reject, to implementation of the new ide, and to confirmation of this decision
Prinsip-prinsip Komunikasi dalam proses inovasi
1. Mass media lebih penting/efektif pada tahap Knowledge
2. Komunikasi interpersonal lebih penting/efektif pada tahap Persuasion
3. Mass media lebih penting/efektif untuk adopter pemula

Atribut Dan Sumber-Sumber Inovasi
Terdapat lima atribut inovasi :
1. Relative Advantage
Kondisi dimana inovasi dipandang lebih baik dari ide sebelumnya,yang nampak dari keuntungan ekonomis, pemberian status, atau cara lainnya
2. Compatibility
Keadaan dimana suatu inovasi dipandang konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman masa lalu,
3. Complexity.
Keadaan dimana inivasi dipandang secara relative sulit difahami dan digunakan. Keadaan ini berpengaruh negatif terhadap tingkat adopsi.
4. Trialibility
Keadaan dimana suatu inovasi dapat diuji secara terbatas, kondisi ini berhubungan positif dengan tingkat adopsi.
5. Observability
Keadaan dimana hasil suatu inovasi dapat dilihat orang lain. Kondisi ini berhubungan secara positif dengan tingkat adopsi

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Inovasi pendidikan sebagai usaha perubahan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri, tapi harus melibatakan semua unsur yang terkait di dalamnya, seperti inovator, penyelenggara inovasi seperti guru dan siswa. Disamping itu, keberhasilan inovasi pendidikan tidak saja ditentukan oleh satu atau dua faktor saja, tapi juga oleh masyarakat serta kelengkapan fasilitas.
Inovasi pendidikan adalah penemuan yang dapat berupa ide, barang, metode yang diamati sebagai suatu hal yang baru bagi dunia pendidikan.
Inovasi penidikan dan model pembelajaran di ndonesia
a.top down inovation
b.bottom up inovation
c.desentralisasi dan demokrasi pendidikan
d.KTSP
e.Quantum learning
f.CTL
g.PAKEM

Faktor yang perlu diperhatikan dalam inovasi pendidikan
1.guru
2.siswa
3.kurikulum
4.fasilitas
5.lingkup sosial masysrakat

DAFTAR PUSTAKA

Silberman, L Melvin.Teknologi pengajaran. Bandung: sinar baru Algensido.,. 2006.
Mahsunah.Active learning. Bandung: Nusamedia. 2006.
Sudjana, nana dan Ahmad Rivai.Quantum teaching. Bandung: Kaifa.. 2003.
Contextual Teaching and Learning /CTL
Cooperative Learning
http://WWW. Shafe.Tripod.com//
http://WWW.pdk.go.id
http://WWW.Sinarharapan.co.id
http://WWW.Sinarharapan.co.id/berita/0503/26/opi 02.htm
http://uharsputra.wordpress.com
.http://www.scribd.com/doc/11434260/M
Inovation. Dalam situs http://WWW. Shafe.Tripod.com// Inov.htm. Dikunjungi 23 Desember 2008.Noor, Idris H.M. Sebuah tinjauan teoritis tentang inovasi pendidikan di Indonesia situs http://WWW.pdk.go.id/balitbang/publikasi/Jurnal/no_026/sebuah_Tinjauan_teoritis_Idris.htm.dikunjungi 23 Desember 2008. Cece Wijaya, Djaja jajuri, A. Tabrani Rusyam. 1991.
Upaya pembaharuan dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.Segena, Unggul. Desentralisasi dan Demokratisasi pendidikan di era otonomi daerah. Dalam situs http://WWW.Sinarharapan.co.id/berita/0503/26/opi 02.htm. Dikunjungi 25Desember 2008.Soedibyo, moryati BRA.
Komitmen bagi desentralisasi pendidikan. Dalam situshttp://WWW.Sinarharapan.co.id/berita/0503/26/opi 02.htm
.Dikunjungi 25 Desember 2008.Deporter, Bobbi. et.al. 2003.
Implementasi pakem (pembelajaran Aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan) pada mata pelajaran PAI di SDN BABAK SARI DUKUN GRESIK. Surabaya: IAIN Sunan Ampel (skripsi).

Organisasi Kurikulum


BENTUK-BENTUK ORGANISASI KURIKULUM

Makalah Ini Disusun Sebagai Tugas
Mata Kuliah “PENGEMBANGAN KURIKULUM”

Dosen Pengampu :
Dr Nur Ahid, M.Ag

Disusun Oleh :
Mochamad Badrusalim (9321 052 08)
Muhimmatul Azizah (9321 069 08)
Binti Munadhiroh (9321 186 08)
Vivi Octaviani (9321 141 08)

JURUSAN TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) KEDIRI
2010


BAB I
Pendahuluan
A.Latar Belakang
Proses pendidikan dipengaruhi oleh begitu banyak hal, salah satunya bagaimana pola atau cara penyampaian materi yang disampaikan oleh guru kepadapara peserta didiknya. Bagaimana agar proses pendidikan yang menyenangkan (enjoyable), efektif, efisien dan mampu mencapai tujuan secara optimal menjadi persoalan tersendiri yang harus dipecahkan.
Organisasi kurikulum sebagai pola penyampaian materi dalam proses pembelajaran yang disusun dan dilaksanakan oleh sluruh elemen dalam pendidikan. Dalam macam-macam organisasi kurikulum ini kita akan memperoleh sedikitgambaran bagaimana seharusnya pola kurikulum yang sebaiknya dilaksanakan dalam lembaga pendidikan dengan tetap mempertimbangkan minat, bakat dan kemampuan siswa yang ada. Dengan pemilihan bentukorganisasi yang tepat akan mempermudah proses pembelajaran dan dengan hasil yang optimal sesuai harapan.

B.Rumusan Masalah
1.Apa pengertian organisasi kurikulum?
2.Faktor-faktor apakah yang perlu diperhatikan dalam organisasi kurikulum?
3.Bagaimana bentuk-bentuk organisasi kurikulum?
4.Bagaimana prosedur pengorganisasian kurikulum?

BAB II
Pembahasan

1.Pengertian Organisasi Kurikulum
Organisasi kurikulum adalah pola atau bentuk penyusunan bahan pelajaran yang akan diajarkan atau disampaikan kepada murid,1 atau merupakan suatu cara menyusun bahan atau pengalaman belajar ingin dicapai dengan tujuan mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajar, sehingga tujuan pembelajaran dicapai secara efektif.2
Organisasi kurikulum merupakan suatu dasar yang penting sekali dalam pembinaan kurikulum dan bertalian erat dengan tujuan program pendidikan yang hendak dicapai, karena bentuk kurikulum turut menentukan bahan pelajaran, urutannya dan cara menyajikannya kepada murid-murid.3
Pada prinsipnya organisasi kurikulum disusun untuk mempermudah proses pembelajaran kepada siswa agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan optimal.

2.Faktor-Faktor Yang Perlu Diperhatikan Dalam Organisasi Kurikulum
Dalam penyusunan organisasi kurikulum ada sejumlah faktor yang harus diperhatikan, yakni4 :
A.Ruang lingkup (Scope), merupakan keseluruhan materi pelajaran dan pengalaman yang harus dipelajari siswa. Ruang lingkup bahan pelajaran sangat tergantung pada tujuan pendidikan yang hendak dicapai.
B.Urutan bahan (Sequence), berhubungan dengan urutan penyusunan bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa agar proses belajar dapat berjalan dengan lancar.
Urutan bahan meliputi dua hal: pertama, urutan isi bahan pelajaran dan kedua, urutan pengalaman belajar yang memerlukan pengetahuan tentang perkembangan anak dalam menghadapi pelajaran tertentu.
C.Kontinuitas, berhubungan dengan kesinambungan bahan pelajaran tiap mata pelajaran, pada tiap jenjang sekolah dan materi pelajaran yang terdapat dalam mata pelajaran yang bersangkutan. Kontinuitas ini dapat bersifat kuantitatif dan kualitatif .
D.Keseimbangan, adalah faktor yang berhubungan dengan bagaimana semua mata pelajaran itu mendapat perhatia yang layak dalam komposisi kurikulum yang akan diprogramkan pada siswa. Keseimbangan dalam kurikulum dapat ditinjau dari dua segi yakni keseimbangan isi atau apa yang dipelajari, dan keseimbangan cara atau proses belajar.
E.Integrasi atau keterpaduan, yang berhubungan dengan bagaimana pengetahuan dan pengalaman yang diterima siswa mampu memberi bekal dalam menjawab tantangan hidupnya, setelah siswa menyelesaikan program pendidikan disekolah.

3.Bentuk-Bentuk Organisasi Kurikulum
Berkaitan dengan pola organisasi kurikulum, terdapat sejumlah pendapat dan variasi pengkategorian sistem organisasi kurikulum, maka akan dibahas organisasi kurikulum berdasar dua kategori. Berdasarkan mata pelajaran dan terintegrasi5. Adapun pembagiannya sebagai berikut :


A.Organisasi kurikulum berdasrkan mata pelajaran (subject curriculum), terbagi atas :
1)Mata pelajaran terpisah (separated curriculum)
Kurikulum ini menyajikan segala bahan pelajaran dalam berbagai macam mata pelajaran yang terpisah-pisah satu sama lain, seakan-akan ada batas pemisah antara mata pelajaran satu dengan yang lain, juga antara kelas yang satu dengan kelas yang lain
Beberapa hal positif dari separated curriculum ini adalah6 :
Bahan pelajaran disajikan secara sistematis dan logis
Dapat dilaksanakan untuk mewariskan nilai-nilai budaya terdahulu
Kurikulum ini mudah diubah dan dikembangkan
Bentuk kurikulum ini mudah dipola, dibentuk, didesain bahkan mudah untuk diperluas dan dipersempit sehingga mudah disesuaikan dengan waktu yang ada.
Sedangkan beberapa kritik terhadap kurikulum ini antara lain7 :
Mata pelajaran terlepas-lepas satu sama lain.
Tidak atau kurang memperhatikan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Dari sudut psikologis, kurikulum demikian mengandung kelemahan: banyak terjadi verbalitas dan menghafal serta makna tujuan pelajaran kurang dihayati oleh anak didik.
Kurikulum ini cenderung statis dan ketinggalan dari perkembangan zaman




2)Mata pelajaran gabungan (corelated curriculum)
Yaitu kurikulum yang menekankan perlunya hubungan diantara dua atau lebih mata pelajaran tanpa menghilangkan batas-batas setiap mata pelajaran. Misalnya Sejarah dan Ilmu Bumi dapat diajarkan untuk saling memperkuat.8
Ada tiga jenis korelasi yang sifatnya bergantung dari jenis mata pelajaran.9
Korelasi faktual, misalnya sejarah dan kesusastraan. Fakta-fakta sejarah disajikan melalui penulisan karangan sehingga menambah kemungkinan menikmati bacaannya oleh siswa.
Korelasi deskriptif, korelasi ini dapat dilihat pada penggunaan generalisasi yang berlaku untuk dua atau lebih mata pelajaran. Misal psikologi dapat berkorelasi dengan sejarah atau Ilmu Pengetahuan Sosial dengan menggunakan prinsip-prinsip yang ada dalam psikologi untuk menerangkan kejadian-kejadian sosial.
Korelasi normatif, hampir sama denagan korelasi deskriptif, perbedaannya terletak pada prinsipnya yang bersifat moral sosial. Sejarah dan kesusastraan dapat dikorelasikan berdasarkan prinsip-prinsip moral sosial dan etika.
Beberapa kelebihan kurikulum ini adalah :10
Dengan korelasi, pengetahuan murid lebih integral, tidak terlepas-lepas (berpadu).
Dengan melihat hubungan erat antara mata pelajaran satu dengan yang lain, minat murid bertambah.
Korelasi memberikan pengertian yang lebih luas dan mendalam karena memandang dari berbagai sudut.
Dengan korelasi maka yang diutamakan adalah pengertaian dan prinsip-prinsip bukan pengetahuan akan fakta, dengan begitu lebih memungkinkan penggunaan pengetahuan secara fungsional bagi murid-murid.
Berikut beberapa kelemahan dari kurikukum mata pelajaran gabungan ini adalah11 :
Sulit untuk menghubungkan dengan masalah-masalah yang hangat dalam kehidupan sehari-hari, sebab dasarnya subject centered.
Brood fields tidak memberikan pengetahuan yang sistematis dan mendalam untuk sesuatu mata pelajaran sehingga hal ini dipandang kurang cukup untuk bekal mengikuti pelajaran di perguruan tinggi.
B.Kurikulum terpadu (integrated curriculum)
Dalam kurikulum terpadu atau terintergrasi, batas-batas diantara mata pelajaran sudah tidak terlihat sama sekali, karena semua mata pelajaran sudah dirumuskan dalam bentuk masalah atau unit.
Ciri-ciri kurikulum terintegrasi ini antara lain12 :
Berdasarkan filsafat pendidikan demokrasi
Berdasarkan psikologi belajar gestalt dan organismik
Berdasarkan landasan sosiologis dan sosiokultural
Berdasarkan kebutuhan, minat dan tingkat perkembangan atau pertumbuhan siswa.
Bentuk kurikulum ini tidak hanya ditunjang oleh semua mata pelajaran atau bidang studi yang ada, tetapi lebih luas. Bahkan mata pelajaran baru dapat saja muncul dan dimanfaatkan guna pemecahan masalah
Sistem penyampaian menggunakan sistem pengajaran unit, baik pengalaman (experience) atau pelajaran (subject matter unit)
Peran guru sama aktifnya dengan peran murid. Guru selaku pembimbing.
Beberpa manfaat kurikulum terpadu ini antara lain13 :
a.Segala sesuatu yang dipelajari anak merupakan unit yang bertalian erat, bukan fakta yang terlepas satu sama lain.
b.Kurikulum ini sesuai dengan pendapat-pendapat modern tentang belajar, murid dihadapkan kepada masalah yang berarti dalam kehidupan mereka.
c.Kurikulum ini memungkinkan hubungan yang erat antara sekolah dengan masyarakat.
d.Aktifitas anak-anak meningkat karena dirangsang untuk berpikir sendiri dan berkerja sendiri, atau kerjasama dengan kelompok.
e.Kurikulum ini mudah disesuaikan dengan minat, kesanggupan dan kematangan murid.
Keberatan-keberatan yang dilontarkan pada pelaksanaan kurikulum terpadu ini adalah14 :
Guru belum siap untuk melaksanakan kurikulum ini
Kurikulum ini tidak mempunyai organisasi yang sitematis
Kurikulum ini memberatkan guru
Kurikulum ini tidak memungkinkan ujian umum, sebab tidak ada unformitas di sekolah-sekolah satu sama lain
Anak-anak diragukan untuk bisa diajak menentukan kurikulum
Pada umumnya kondisi sekolah masih kekurangan alat-alat untuk melaksanakan kurikulum ini.

Adapun dalam bentuk kurikulum terpadu ini terbagi lagi, meliputi :
1)Kurikulum inti (core curriculum)
Kurikulum ini bertujuan untuk mengembangkan integrasi, melayani kebutuhan siswa dan meningkatkan keaktifan belajar dan hubungan antara kehidupan dan belajar.15
Ciri yang membedakan kurikulum inti, yaitu16 :
Kurikulum inti menekankan kepada nilai-nilai sosial, unsur universalitas dalam suatu kebudayaan memberikan stabilitas dan kesatuan pada masyarakat.
Struktur kurikulum inti ditentukan oleh problem sosial.
Karakteristik yang dapat dikaji dalam kurikulum ini adalah17 :
Kurikulum ini direncanakan secara berkelanjutan (continue), selalu berkaitan dan direncanakan secara terus-menerus
Isi kurikulum yang dikembangkan merupakan rangkaian dari pengalaman yang saling berkaitan
Isi kurikulum selalu mengambil atas dasar masalah atau problema yang dihadapi secara aktual
Isi kurikulum cenderung mengambil atau mengangkat substansi yang bersifat pribadi maupun sosial
Isi kurikulum ini difokuskan berlaku untuk semua siswa, sehingga kurikulum ini sebagai kurikulum umum, tetapi substansinya bersifat problema, pribadi, sosial dan pengalam pribadi.
Manfaat kurikulum inti adalah18 :
Segala sesuatu yang dipelajari dalam unit bertalian erat
Kurikulum ini sesuai dengan pendapat-pendapat modern tentang belajar
Kurikulum ini memungkinkan hubungan yang erat antara sekolah dengan masyarakat
Kurikulum ini sesuai dengan paham demokrasi
Kurikulum ini mudah disesuaikan dengan minat.
2)Kurikulum yang berlandaskan pada proses sosial dan fungsi kehidupan (social functions and persistens situations)
Kurikulum social functions didasarkan atas kegiatan-kegiatan manusia dalam masyarakat, dalam social functions dapat diangkat berbagai kegiatan-kegiatan manusia yang dapat dijadikan sebagai topik pembelajaran. Sebagai modifikasi dari social functions adalah persistent life situations yng berkarakteristik yaitu situasi yang diangkat senantiasa dihadapi manusia dalam hidupnya, masal lalu, saat ini dan masa yang akan datang.19
Secara umum ada tiga kelompok situasi yang dihadapi manusia, yaitu :
a.Situasi mengenai perkembangan individu. Misalnya kesehatan, intelektual, moral dan keindahan.
b.Situasi untuk perkembangan partisipasi sosial yaitu : hubungan antar pribadi, keanggotaan kelompok dan hubungan antar kelompok.
c.Situasi untuk perkembangan kemampuan menghadapi faktor-faktor ekonomi dan daya-dayalingkugan, yaitu : bersifat alamiah, sumber teknologi danstruktur dan daya-daya sosial ekonomi
Kurikulum ini dikenal juga dengan sebutan life curruculum, yang bertujuan memberikan pengalaman belajar yang berarti bagi anak sesuai denganapa yang dibutuhkansehari-hari dalam kehidupan.20
Ide life curriculum pada dasarnya bersumber dari pandangan Herbert Spencer (1860) tentang lima kategori bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dijadikan tujuan pendidikan, yaitu21:
Self preservation (pemeliharaan diri)
Securing necessities of life (menggembarkan kepentingan kehidupan)
Rearing and disciplining of a offspringl (memelihara keturunan)
Meintenance of proper social and political relations (memelihara hubungan sosial dan politik
Menurut Marshal dan Goets, diantara manfaat dari kurikulumini adalah22 :
Mengambil bahan pelajaran sekitar masalah dan proses sosial atau segi-segi kehidupan.
Memungkinkan digunakan latar belakang pengalaman siswa yang dapat menunjang belajar, karena bahan pelajaran diorganisasi sekitar kehidupan anak. Pendekatannya semacam laboratorium kehidupan sosial.
Data tentang kehidupan sosial setiap saat, dari berbagai tempat dan kebudayaan.
Memungkinkan mendapat pengalaman yang luas, karena siswa mempelajari berbagai kehidupan sosisal.
Dengan kurikulum ini dapat dimungkinkan diciptakannya proses sosial sebagaimana diinginkan (social engineering).
Adapun kesulitan dalam pengembangan kurikulum ini yaitu23
Dalam pelaksanaan, menemukan hubungan isi kurikulum dengan fungsi kehidupan yang dikehendaki hanya sedikit yang dapat dicapai.
Menyusun kurikulum dengan skema didasarkan dari kehidupan lebih sulit dibandingkan dengan mengorganisasi bahan pelajaran berpusat pada mata pelajaran.
Seringkali terjadi kegagalan dalam mengintegrasikan pengalaman-pengalaman belajar sesuai dengan tujuan utama dari bentuk life curriculum
3)Kurikulum yang berpusat pada kegiatan atau pengalaman (experience and activity curriculum)
Kurikulum ini dikenal juga dengan sebutan activity curriculum. Mengutamakan kegiatan-kegiatan atau pengalaman-pengalaman siswa dalam rangka membentuk kemampuan yang terintegritas dengan lingkungan maupun potensi siswa.24 Kurikulum ini berupaya mengatasi kelemahan pada subject curriculum, yakni anak lebih banyak menerima (passive), juga bahan pelajaran merupakan hasil pengalaman masa lampau.25
Rasional penggunaan bentuk kurikulum ini adalah26 :
Belajar dapat terjadi dengan proses mengalami. Anak dapat belajar dengan baik bila ia dihadapkan dengan masalah aktual, sehingga dapat menemukan kebutuhan reel atauminatnya.
Belajar merupakan transaksi aktif.
Belajar secara aktif memerlukan kegiatan yang bersifat vital, sehingga dapat berupaya mencapai tujuan dan memenuhi kebutuhan pribadinya.
Belajar terjadi melalui proses mengatasi hambatan (masalah) sehingga mencapai pemecahan atau tujuan.
Hanya dengan melalui penyodoran masalah memungkinkan diaktifkannya motivasi dan upaya, sehingga anak berpengalaman dengan kegiatan yang bertujuan.
Penggunaan kurikulum ini dengan menggunakan metode proyek. Kill Patrick (1918) membagi proyek-proyek yang dapat dilaksanakan sebagi berikut27 :
Proyek permainan seperti menari atau drama
Proyek eksistensi seperti karya wisata ke tempat-tempat bersejarah, kebun biologi dan sejenisnya
Proyek cerita seperti membaca cerita, mendengarkan cerita
Proyek pekerjaan tangan seperti membuat prakarya
Menurut Nasution, dalam perkembangan kurikulum ini selanjutnya pengalaman langsung dan minat spontan lebih-lebih digunakan sebagai bantuan dalam proses belajar. Bukan sebagai pokok untuk menusun unit. Minat anak lebih banyak ditentukan berdasarkan studi, pengalaman atau penelitian.28
4.Prosedur Pengorganisasian Kurikulum
Dalampemilihandan reorganisasi isi kurikulum diperlukan suatu prosedur atau tata kerja tertentu, yang meliputi29 :
a.Prosedur employee. Guru memilih dan mengorganisasi isi kurikulum tersebut. Guru sangat berperan penting
b.Prosedur Buku Pelajaran (the textbook procedure). Pemilihan isi kurikulum didasarkan pada materi yang terkandung dalam sejumlah buku pelajaran yang telah dipilih oleh panitia khusus.
c.Prosedur survei pendapat (the survey of oppinions procedure). Pemilihan pengorganisasian atau reorganisasiisi kurikulum dengan mengadakan survei atau penelitian terhadap pendapat berbagai pihak.
d.Prosedur studi kesalahan (thestudy of errors procedure). Mengadakan analisis terhadap kesalahan, kekeliruan dan kelemahan dari pengalaman yang baru.
e.Prosedur mempelajari kurikulum lainnya (the study of other curriculum procedure). Mempelajari kurikulum sekolah lain untuk diterapkan dan menentukan isi kurikulum yang sesuai dengan tujuan sekolah sendiri yang ingin dicapai. Tidak harus sama, melainkan perlu adanya evaluasi dan modifikasi.
f.Prosedur analisis kegiatan orang dewasa (the analysis of adult activities procedure). Mengadakan studi kegiatan yang dilakukan yang berguna untuk dipelajari oleh siswa, kemudian diidentifikasi kegiatan tersebut sehingga dapat disusun suatu program pengalaman kurikuler untuk diajarkan disekolah.
Beberapa contoh analisi tersebut yaitu :
Kegiatan bahasa dan interkominikasi sosial
Kegiatan kesehatan
Kegiatan sebagai warga negara
Kegiatan sosial umum
Kegiatan pemanfaatan waktu dan rekreasi
Kegiatan dalam rangka kesehatan mental
Kegiatan keagamaan
Kegiatan Sebagai orang tua
Kegiatan nonvocational
g.Prosedur fungsi-fungsi sosial (the social functions procedure). Berbagai macam fungsi sosial yang ditemukan melalui survei, studi literatur atau riset, kemudian diklasifikasikan menjadi ”area of living”.
Menurut Douglass, area of living meliputi citizenship, home living, leisure life, vocational efficiency, physical and mental health dan continued learning. Sedangkan menurut Stratemenyer yaitu, home, comunity, leisure time, work dan spiritual activities.
h.Prosedur minat dan kebutuhan remaja (the youth interest and needs procedure). Dari prosedur sosial diatas kemudian diklasifikaskan menjadi ”persistent life problems”, adapun urutannya didasarkan pada latar belakang, kematangan, minat dan kebutuhan para siswa secara kronologis dan logis dan juga sebagai persiapan menempuh kehidupan dewasa. Jadi prosedur ini tidak bersifat individualistik, melainkan interaksi antara individu anak (remaja) dengan lingkungannya.

BAB III
KESIMPULAN






DAFTAR PUSTAKA

Ali, Mohammad.Pengembangan Kurikulum Di Sekolah.Bandung:Sinar Baru.1992.

Hamalik, Oemar.Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung:Remaja Rosdakarya.2008.

Nasution, S.Asas-Asas Kurikulum.Jakarta:Bumi Aksara.2008.

Octaviani, Fani.Model dan Organisasi kurikulum(http://fanioctaviani.blogspot.com/ 2009/11/model-dan-organisasi-kurikukulum.html) Senin 9 Novempber 2009. diakses tanggal12 Oktober 2010


Zakki, Muhammad dan Sariban Anantum.Pengembangan Kurikulum.Surabaya:Bina Ilmu.1996.

Sudjana, Nana.Pembinaan dan pengembangan Kurikulum Sekolah.Bandung:Sinar Baru Algensindo. 2002.

Suryosubroto, B.Tatalaksana KurikulumJakarta:Rineka Cipta.2005.

Design by WPThemesExpert | Blogger Template by BlogTemplate4U