PERBEDAAN
KECEMASAN DALAM MENGHADAPI UJIAN ANTARA
SISWA AKSELERASI DAN REGULER DI
MTsN TANJUNG TANI PRAMBON NGANJUK
PROPOSAL
SKRIPSI
Di
Tulis Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Guna
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I )
Dosen
Pembimbing:
Imron
Muzakki, M.Psi
MOCHAMAD
BADRUSALIM
NIM
: 9321.052.08
JURUSAN
TARBIYAH
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN)
KEDIRI
2011
Perbedaan Kecemasan Dalam Menghadapi Ujian Antara Siswa
Akselerasi Dan Reguler Di MTsN Tanjung Tani Prambon Nganjuk
Latar
Belakang
Salah satu cara untuk meningkatkan taraf hidup bangsa adalah melalui
pendidikan, karena dengan pendidikan dapat meningkatkan kualitas
serta mengembangkan potensi sumber daya manusia. Seperti yang
tertuang dalam Undang- Undang Republik Indonesia No.20 tahun 2003,
bahwa:
Pendidikan
nasional berfungsi untuk mengembangakn kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, serta berilmu, cakap, mandiri,dan menjadi warga
Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dalam pelaksanaan program pendidikan ada dua istilah yang biasa kita
jumpai yaitu program pendidikan regular dan akselerasi (percepatan).
Sebagaimana diungkapkan oelh Reni Akbar bahwa penyelenggaraan
pendidikan secara reguler dilaksanakan selama ini lebih banyak
bersifat missal,yang berorientasi secara kuantitas untuk dapat
melayani sebanyak-banyaknya jumlah siswa. Kelemahan yang secara
tampak adalah tidak terakomodasinya kebutuhan individual siswa. Siswa
yang relatif cepat daripada yang lain tidak terlayaninya secara baik
sehingga potensi yang dimiliknya tidak dapat tersalurkan dan
berkembang secara optimal.
Menurut Latifah bahwa dalam menyelenggarakan pendidikan, pada awalnya
pemerintah telah menetapkan suatu program pendidikan yang bersifat
reguler yaitu penyelenggaraan pendidikan yang bersifat massal yakni
berorientasi pada kuantitas/ jumlah untuk dapat melayani
sebanyak-banyaknya siswa usia sekolah.
Namun pada kenyataannnya program reguler ini tidak dapat memenuhi
semua kebutuhan siswa dan mempunyai kelemahan yakni tidak
terakomodasikannya kebutuhan individual siswa. Siswa yang relatif
lebih cepat nalarnya daripada yang lainnya tidak terlayani secara
baik sehingga potensi yang dimilikinya tidak dapat berkembang secara
optimal.
Berdasarkan pengalaman, siswa yang berkemampuan jauh di atas
rata-rata cenderung lebih cepat menguasai materi pelajaran yang
disampaikan oleh guru. Akibatnya, siswa ini akan mengganggu siswa
lain yang lebih lamban dari padanya. Siswa yang berkemampuan jauh di
atas rata-rata ini, biasanya lebih sering terkesan santai dan tampak
kurang memperhatikan pelajaran. Hal yang lebih buruk lagi, siswa
tersebut cenderung mengganggu temannya, sehingga kegiatan belajar
mengajar dalam kelas menjadi kurang lancar.
Untuk melayani siswa tersebut, diperlukan program khusus yang lebih
cepat atau lebih luas dari program reguler.
Landasan hukum akan pentingnya pemberian perhatian khusus kepada
peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa
(berbakat) memperkuat asumsi bahwa kelompok peserta didik memiliki
kebutuhan yang berbeda dari peserta didik yang berkemampuan dan
memiliki kecerdasan normal. Dalam usahanya untuk menangani anak-anak
berbakat, pada tahun 1998/1999 pemerintah mengeluarkan kebijakan
untuk membuat program percepatan atau lebih dikenal dengan istilah
akselerasi
Dengan masuknya seseorang sebagai siswa program akselerasi, sebutan
maupun harapan yang diberikan oleh masyarakat semakin tinggi kepada
mereka. Menurut Fawzia bahwa siswa akselerasi dinominasikan oleh
guru, teman-teman dan orang tua, sebagai anak yang paling hebat dan
paling pandai dibandingkan siswa reguler lainnya. Sebutan tersebut
membuat siswa akselerasi mengalami tekanan.
Hal ini didukung oleh pendapat Moeslow yang berpendapat bahwa siswa
akselerasi termasuk anak yang berbakat dan merupakan anak-anak yang
banyak mengalami tekanan dari lingkungannya.
Seperti yang diungkapkan Alim bahwa tekanan dari lingkungan tersebut
dikarenakan adanya harapan yang tinggi dari orang tua agar menjadi
anak yang sukses atau desakan masyarakat agar menjadi individu yang
bermanfaat di masyarakat, serta anggapan guru dan teman-teman agar
dapat berhasil dalam menentukan pilihan karier di kemudian hari.
Tekanan yang mereka rasakan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya
kecemasan.
Perasaan cemas sebelum menghadapi ujian pasti dialami oleh setiap
orang. Namun demikian setiap orang memiliki gejala maupun respon
berbeda. Ada orang yang dapat mengatasi kecemasan, tetapi ada pula
yang selalui dihantui rasa cemas.
Menurut Arif Furchan:
Kecemasan
ujian adalah rasa cemas yang berlebihan ketika menghadapi ujian.
Merasa sedikit cemas ketika menghadapi ujian sebenarnya adalah
normal. Bahkan sedikit rasa cemas dapat mendorong semangat
belajar Anda dan menjaga Anda tetap termotivasi. Akan tetapi,
rasa cemas yang berlebihan dapat mengganggu belajar Anda. Anda
mungkin akan sulit belajar dan mengingat materi kuliah yang akan
diujikan. Di samping itu, rasa cemas yang berlebihan juga
mungkin akan menghambat kinerja Anda dalam ujian. Anda mungkin
sulit menunjukkan apa yang telah Anda ketahui dalam ujian itu.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menghadapi
ujian, siswa program reguler mengalami kecemasan yang kebanyakan
disebabkan oleh faktor dari dalam dirinya karena kemampuan yang
dimilikinya. Sedangkan bagi siswa program akselerasi yang digolongkan
kepada anak yang berbakat, juga mempunyai rasa cemas gagal
mempertahankan prestasinya dikarenakan faktor tuntutan dari luar
dirinya agar ia menjadi seorang yang sukses, sehingga beban yang
harus dipikulnya akan lebih berat sebab tekanan yang ia rasakan
tersebut.
Dari beberapa karakteristik dari pendidikan akselerasi dan reguler,
maka dalam mengahadpi ujian mempunyai karakter yang berbeda pula.
Maka dari itu peneliti rasa sangat penting mengetahui kecemasan
mengahadpi ujian masing masing program akselerasi maupun reguler
tersebut, peeliti ingin mengetahui sejauh mana perbedaan kecemasan
dalam menghadapi ujian antara siswa akselerasi dan reguler sehingga
nantinya bisa digunakan sebagai acuan bagi pendidik maupun orang tua
dalam menanggulangi kecemasan dalam menghadapi ujian pada
putra-putrinya.
Adapun yang menjadikan peneliti memilih MTsN Tanjung Tani Prambon
Nganjuk sebagai objek penelitian karena lembaga ini merupakan salah
satu lembaga pendidikan yang menyelenggarakan kedua program
pendidikan tersebut yaitu program akselerasi dan reguler. Dalam
pembalajarn siswa-siswi pasti menjalani ujian sebagai alat evaluasi
untuk mengukur keberhasilan pembelajaran di MTsN Tanjung Tani Prambon
Nganjuk.
Dari penjelasan latar belakang di atas, maka peneliti ingin meneliti
dengan judul “PERBEDAAN KECEMASAN DALAM MENGHADAPI UJIAN ANTARA
AKSELERASI DAN REGULER DI MTsN TANJUNG TANI PRAMBON NGANJUK”.
Rumusan
Masalah
Dari beberapa uraian latar belakang diatas, maka dalam penelitian ini
dapat dirumuskan permasalahannya yakni:
Bagaimana
kecemasan siswa akselerasi di MTsN Tanjung Tani Prambon Nganjuk
dalam menghadapi Ujian?
Bagaimana
kecemasan siswa program reguler di MTsN Tanjung Tani Prambon Nganjuk
dalam menghadapi Ujian?
Bagaimana
perbedaan kecemasan dalam menghadapi ujian antara siswa akslerasi
dan reguler di MTsN Tanjung Tani Prambon Nganjuk?
Tujuan
Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai
dalam penelitian ini adalah :
Untuk
mengetahui kecemasan dalam menghadapi ujian siswa akselerasi di MTsN
Tanjung Tani Prambon Nganjuk
Untuk
mengetahui kecemasan dalam menghadapi ujian siswa reguler di MTsN
Tanjung Tani Prambon Nganjuk
Untuk
mengetahui perbedaan kecemasan dalam menghadapi ujian antara siswa
akslerasi dan reguler di MTsN Tanjung Tani Prambon Nganjuk
Kegunaan
Penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut :
Secara
teoritis
Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai sumbangan ilmiah dalam
pengembangan pendidikan, khususnya sebagai umpan balik dalam
mengungkap kecemasan dalam menghadapi ujian antara siswa akselerasi
dan reguler di MTsN Tanjung Tani Prambon Nganjuk.
Secara
Praktis
Hasil penelitian ini bisa memberikan masukan kepada pengelola lembaga
pendidikan tentang, guru dan para orang tua terhadap kecemasan dalam
menghadapi ujian antara siswa akselerasi dan reguler di MTsN Tanjung
Tani Prambon Nganjuk, sehingga menjadi feed back untuk mengupayakan
penanganan dan penganggulangannya.
Telaah
Pustaka
Untuk menghindari kesalahan persepsi perlu dijelaskan maksud dan
definisi dari judul yang telah peneliti susun, namun tidak semua
komponen yang ada dalam judul kami jelaskan melalui penegasan ini,
hanya beberapa istilah yang memerlukan penjabaran sehingga tidak
menimbulkan makna ganda. Kata-kata yang perlu ditegaskan disini
adalah :
Kecemasan
Menghadapi Ujian : Pengalaman buruk yang kurang menyenangkan yang
dialami oleh individu baik persiapan, menjelang dan pelaksanaan
ujian, individu yang menderita kecemasan mengahdapi ujian
menyebabkan terhambat dalam memproses informasi sehingga tidak
menemukan cara pemecahan masalah yang tepat.
Akselerasi
(Percepatan) : Cara penanganan anak supernormal dengan membolehkan
naik kelas secara meloncat atau menyelesaikan program reguler di
dalam jangka waktu yang lebih singkat.
Reguler
: Program pendidikan nasional yang penyelenggaraan pendidikannya
bersifat massal dan lebih heterogen dalam hal potensi, bakat, IQ
serta biaya yang dikeluarkan relative lebih murah.
Kajian
Teoritik
Kecemasan
Dalam Menghadapi Ujian
Pengertian
Kecemasan
Kecemasan adalah gangguan yang dicirikan dengan ketegangan motorik
(gelisah, gemetar dan ketidakmampuan untuk rileks), hiperaktifitas
(pusing, jantung berdebar-debar atau berkeringat) dan pikiran atau
harapan yang mencemaskan.
Kecemasan menurut Nevid adalah aprehensi atau keadaan khawatir yang
mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Ciri-ciri
kecemasan
Dalam bukunya Psikologi Abnormal, Nevid mengemukakan beberapa cirri
kecemasan, yaitu:
Ciri-ciri
fisik, yang meliputi kegelisahan dan kegugupan, anggota tubuh
gemetar, keluar banyak keringat, kepala pusing, nafas terasa pendek,
gangguan sakit perut dan mual, sering buang air kecil dll.
Ciri
pada perilaku yang selalu menghindar
Cirri
kognitif, yang meliputi khawatir terhadap sesuatu, takut pada
sesuatu yang buruk akan terjadi, merasa tidak mampu mengatasi
masalah, sulit berkonsentrasi.
Sedangkan menurut Rusdi Muslim dalam “Diagnosis Gangguan Jiwa
Rujukan Ringkas PPDGJ-III”, merumuskan bahwa cirri-ciri kecemasn
yaitu:
Khawatir
tentang nasib buruk, sulit berkonsentrasi, hidup terasa sempit
Ketegangan
motorik meliputi gelisah,sakit kepala, badan gemetar, tubuh tidak
dapat santai
Aktivitas
berlebih pada bagian tubuh meliputi jantung berdebar-debar, tubuh
berkeringat, sesak napas, nyeri pada lambung,mulut kering, kepala
terasa ringan.
Dinamika
kecemasan
Dinamika kecemasan ada dua hal, yaitu:
Menurut
perspektif psikodinamika, kecemasan timbul dari suatu sinyal bahaya
yang berhubungan dengan implus-implus agresif yang mendekat dan
pengancam pada kesadaran
Menurut
perspektif belajar, kecemasan melalui proses belajar, terutama
proses pengkondisian dan observasi perilaku kecemasan.
Macam-macam
kecemasan
Rasa cemas itu terdapat dalam semua gangguan dan penyakit jiwa,dan
ada bermacam-macam pula macamnya, diantaranya:
Rasa
cemas yang timbul akibat melihat dan mengetahui ada bahaya yang
mengancam dirinya
Rasa
cemas yang berupa penyakit dan terlihat dalam beberapa bentuk
Cemas
karena merasa berdosa atau bersalah karena melakukan hal-hal yang
berlawanan dengan keyakina dan hati nurani.
Faktor-fator
penyebab timbulnya kecemasan
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya kecemasan,
diantaranya adalah:
Faktor
kognitif, yaitu peran cara berpikir yang disfungsional yang
mendorong gangguan kecemasan meliputi rasa takut dalam memprediksi
masa depan, keyakinan yang tidak rasional, sensitive yang berlebihan
pada keadaan dan tidak yakin pada kemampuan sendiri
Factor
biologis, yaitu ketidakseimbangan struktur biokimia di otak, yang
meliputi kesamaan gen, yang mengalami gangguan kecemasan,
eurotransmiter yang kurang mengandung gamma aminobutyric
acid (GABA), karena kelebihan GABA akan meredam respon-respon
stress.
Faktor
sosial dan lingkungan, meliputi mengwali reson takut pada orang
lain, kurangnya dukungan social dan mendengar cerita traumatis.
Ujian
sekolah
Ujian sekolah/madrasah adalah kegiatan kegiatan penilaian dalam
bentuk ujian tulis dan/ataupraktek untuk mengetahui pencapaian
Standar Kompetensi Lulusan pada semua mata pelajaran yang tidak
diujikan dalam Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) dan
Ujian Nasional (UN).
Kecemasan
menghadapi Ujian
S P Lewis dalam bukunya Test Anxiety, sebagaimana dikutip
Mutmainah, mendefinisikan kecemasan mengahadapi tes atau ujian adalah
pengalaman buruk yang kurang menyenangkan yang dialami oleh individu
baik persiapan, menjelang dan pelaksanaan ujian, individu yang
menderita kecemasan mengahdapi ujian menyebabkan terhambat dalam
memproses informasi sehingga tidak menemukan cara pemecahan masalah
yang tepat.
Menurut Arif Furchan:
Kecemasan
ujian adalah rasa cemas yang berlebihan ketika menghadapi ujian.
Merasa sedikit cemas ketika menghadapi ujian sebenarnya adalah
normal. Bahkan sedikit rasa cemas dapat mendorong semangat
belajar Anda dan menjaga Anda tetap termotivasi. Akan tetapi,
rasa cemas yang berlebihan dapat mengganggu belajar Anda. Anda
mungkin akan sulit belajar dan mengingat materi kuliah yang akan
diujikan. Di samping itu, rasa cemas yang berlebihan juga
mungkin akan menghambat kinerja Anda dalam ujian. Anda mungkin
sulit menunjukkan apa yang telah Anda ketahui dalam ujian itu.
Jadi kecemasan dalam menghadapi ujian adalah keadaan khawatir dan
rasa tidak tenang dalam ujian, baik sebelum atau persiapan maupun
selama mengikuti ujian. Kecemasan disini adalah kecemasan yang
berlebihan sehingga mempengaruhi proses penyerapan informasi dan
pemecahan masalah.
Akselerasi
Dan Reguler
Akselerasi
Pengertian
Akselerasi
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen
Pendidikan Nasional menerbitkan Pedoman Penyelengggaraan Program
Percepatan Belajar tahun 2003 yang menjelaskan bahwa Program
Percepatan (Akselerasi) adalah pemberian pelayanan pendidikan sesuai
dengan potensi kecerdasan dan bakat istimewa yang dimiliki siswa,
dengan memberi kesempatan kepada mereka untuk dapat menyelesaikan
program reguler dalam jangka waktu yang lebih singkat dibandingkan
teman-temannya.
Colangelo dalam buku Akselersi A-Z menyebutkan bahwa:
Istilah
akselerasi menunjuk pada pelayanan yang diberikan (service delivery),
dan kurikulum yang disampaikan (curriculum delivery). Sebagai model
pelayanan, pengertian akselerasi termasuk juga taman kanak-kanak atau
perguruan tinggi pada usia muda, meloncat kelas, dan mengikuti
pelajaran tertentu pada kelas diatasnya.
Dari uraian di atas disimpulkan bahwa program akselerasi adalah
pemberian layanan pendidikan sesuai potensi siswa yang berbakat,
dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk menyelesaikan program
pendidikan dalam jangka waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan
teman-temannya
Landasan
Hukum Penyelenggaraan Akselerasi
Undang-Undang RI No 20 Tahun 2003, Bahwa :
Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangakn kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, serta berilmu, cakap,
mandiri,dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Dalam GBHN tahun 1998 dinyatakan bahwa “peserta didik yang memiliki
tingkat kcerdasan luar biasa mendapat perhatian dan pelajaran lebi
khusus agar dapat dipacu perkembangan prestasi dan bakatnya tanpa
mengabaikan potensi peserta didik lainnya.
Tujuan
Pendidikan Akselerasi
Menurut Nasichin penyelenggaraan program akselerasi/ percepatan
belajar secara umum bertujuan untuk:
Memberikan pelayanan
terhadap peserta didik yang memiliki karekteristik khusus dari aspek
kognitif dan afektifnya.
Memenuhi hak
azasinya selaku peserta didik sesuai dengan kebutuhan pendidikan
dirinya.
Memenuhi minat
intelektual dan perspektif masa depan peserta didik.
Menyiapkan peserta
didik menjadi pemimpin masa depan.
Sedangkan secara khusus, program percepatan belajar memiliki tujuan
untuk:
Menghargai peserta
didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa untuk dapat
menyelesaikan pendidikan lebih cepat.
Memacu kualitas/
mutu siswa dalam meningkatkan kecerdasan spiritual, intelektual dan
emosional secara berimbang.
Meningkatkan
efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran peserta didik.
Kurikulum
Akselerasi
Seperti yang dikemukakan Nasichin pula dalam buku Akselerasi,
menyebutkan bahwa :
Kurikulum
percepatan belajar menggunakan kurikulu nasional tahun 1994 dan
local/ pengayaan materi dengan penekanan pada materi yang esensial
dan dikembangkan melalui sistem pebelajaran yang dapat memacu dan
mewadahi integrasi pengembangan spiritual, logika, etika dan estetika
serta dapat mengembangkan kemampuan berpikir holistic, kreatif,
sistemik, linier dan konvergen untuk memenuhi tuntutan masa kini dan
masa depan.
Syarat-syarat
Pendidikan Akselerasi
Standar kualifikasi yang diharapkan dapat dihasilkan melalui program
akselerasi/ percepatan belajar adalah peserta didik yang memiliki
kualifikasi kemampuan, yaitu :
Kualifikasi perilaku
kognitif, yaitu daya tangkap cepat, mudah dan cepat memecahkan
masalah serta kritis
Kualifikasi
perilaku kreatif, yaitu rasa ingin tahu, imajinatif, tertantang,
berani ambil resiko
Kualifikasi perilaku
keterikatan terhadap tugas, seperti tekun, bertanggung jawab,
disiplin, kerja keras, keteguhan dan daya juang.
Kualifikasi perilaku
kecerdasan emosi, seperti pemahaman diri sendiri, pemahaman diri
orang lain, pengendalian diri, kemandirian, penyesuaian diri, harkat
diri dan berbudi pekerti
Kualifikasi perilaku
kecerdasan spiritual, yaitu pemahaman dari apa yang harus dilakukan
peserta didik untuk mencapai kebahagiaan diri dan orang lain.
Keuntungan
Program Akselerasi
Southern dan Jones menyebutkan ada beberapa keuntungan dari
dijalankannya program akselerasi bagi anak berbakat, yaitu:
Meningkatkan
efisiensi, siswa yang telah siap dengan bahan-bahan pengajaran dan
menguasai kurikulun pada tingkat sebelumnya akan belajar lebih baik
dan lebih efisien.
Meningkatkan
efektivitas, siswa yang terikat belajar pada tingkat kelas yang
dipersiapkan dan menguasai keterampilan-keterampilan sebelumnya
merupakan siswa yang paling efektif.
Penghargaan, siswa
yang telah mampu mencapai tingkat tertentu sepantasnya memperoleh
penghargaan atas prestasi yang dicapainya.
Membuka siswa pada
kelompok barunya, dengan adanya program akselerasi ini siswa
dimungkinkan untuk bergabung dengan siswa lain yang memiliki
kemampuan intelektual dan akademis yang sama.
Ekonomis, keuntungan
bagi sekolah ialah tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk
mendidik guru khusus anak berbakat.
Kelemahan
Program Akselerasi
Southern dan Jones juga menyebutkan empat hal yang berpotensi negatif
dalam program akselerasi bagi anak berbakat, yaitu:
Segi akademik
Bahan ajar yang
diberikan mungkin saja terlalu jauh bagi siswa sehingga ia tidak
mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru, dan akhirnya menjadi
seorang siswa dalam katagori sedang-sedang saja, bahkan gagal.
Prestasi yang
ditampilkan siswa pada waktu proses identifikasi bisa jadi merupakan
fenomena sesaat saja.
Siswa akselerasi
kurang matang secara sosial, fisik dan juga emosional untuk berada
dalam tingkat kelas yang tinggi meskipun memenuhi kualifikasi secara
akademis.
Siswa akselerasi
terikat pada keputusan karir lebih dini, yang bisa jadi karir
tersebut tidak sesuai bagi dirinya.
Siswa akselerasi
mungkin mengembangkan kedewasaan yang luar biasa tanpa adanya
pengalaman yang dimiliki sebelumnya.
Pengalaman yang
sesuai untuk anak seusianya tidak dialami oleh siswa akselerasi
karena tidak merupakan bagian dari kurikulum sekolah.
Segi penyesuaian
sosial
Siswa akselerasi
didorong untuk berprestasi baik secara akademis. Hal ini akan
mengurangi waktunya untuk melakukan aktivitas yang lain.
Siswa akselerasi
akan kehilangan aktivitas dalam masa-masa hubungan social yang
penting pada usianya.
Kemungkinan siswa
akselerasi akan ditolak oleh kakak kelasnya, sedangkan untuk teman
sebayanya kesempatan untuk bermain pun sedikit sekali.
Siswa sekelas yang
lebih tua tidak mungkin setuju memberikan perhatian dan respek pada
teman sekelasnya yang lebih muda usianya. Hal ini menyebabka siswa
akan kehilangan kesempatan dalam keterampilan kepemimpinan yang
dibutuhkannya dalam pengembangan karir dan sosialnya dimasa depan.
Aktivitas
ekstrakurikuler
Aktivitas
ekstrakurikuler berkaitan dengan usia sehingga siswa akselerasi akan
memiliki kesempatan yang kurang untuk berpartisipasi dalam
aktivitas-aktivitas yang penting di luar kurikulum yang normal. Hal
ini juga akan menurunkan jumlah waktu untuk memperkenalkan masalah
karir pada mereka.
Partisipasi dalam
berbagai kegiatan atletik penting untuk setiap siswa. Kegiatan dalam
program akselerasi mustahil dapat menyaingi mereka yang mengikuti
program sekolah secara normal dalam hal lebih kuat dan lebih
terampil.
Penyesuaian
emosional
Siswa akselerasi
mungkin saja akan merasa frustrasi dengan adanya tekanan dan
tuntutan yang ada. Pada akhirnya, mereka akan merasa sangat lelah
sekali sehingga menurunkan tingkat apresiasinya dan bisa menjadi
siswa underachiever atau drop out.
Siswa akselerasi
akan mudah frustrasi dengan adanya tekanan dan tuntutan berprestasi.
Siswa yang mengalami sedikit kesempatan untuk membentuk persahabatan
pada masanya akan menjadi terasing atau agresif terhadap orang lain.
Adanya tekanan untuk
berprestasi membuat siswa akseleran kehilangan kesempatan untuk
mengembangkan hobi.
Reguler
Pengertian
Reguler
Berdasarkan penngertian yang dikemukakan oleh Ulya Lathifah dalam
buku Aselerasi A-Z menyebutkan bahwa program reguler adalah suatu
program pendidikan nasional yang penyelenggaraan pendidikannya
bersifat massal yaitu berorientasi pada kualitas/jumlah untuk dapat
melayani sebanyak-banyaknya siswa usia sekolah.
Sebagai pendidikan nasional, program reguler dirancang, dilaksanakan
dan dikembangkan untuk ikut berusaha mencapai tujuan nasional.
Tujuan
Program Reguler
Tujuan pendidikan dari program reguler ini, sama dengan tujuan
pendidikan nasional yang dibahas dalam Undang-Undang Republik
Indonesia nomor. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
yaitu:
Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangakn kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, serta berilmu, cakap,
mandiri,dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Karakteristik
Program Reguler
Mudyahardjo menjelaskan bahwa ada beberapa karakteristik dalam
program reguler ini meliputi:
Masa pendidikan
berlangsung dalam waktu terbatas, yaitu masa anak dan remaja
yang meliputi SD selama 6 tahun, SMP dan SMA selama 3 tahun.
Lingkungan
pendidikan dalam program reguler ini berlangsung dalam
lingkungan pendidikan yang diciptakan untuk menyelenggarakan
pendidikan dan secara teknis pendidikan ini berlangsung di
kelas/ ruangan.
Bentuk kegiatan,
isi pendidikan berlangsung tersusun secara terprogram dalam
bentuk kurikulum. Kegiatan pendidikan lebih berorientasi pada
kegiatan guru sehingga guru mempunyai peranan yang sentral.
Kegiatan pendidikan terjadwal, tertentu waktu dan tempatnya.
Bentuk
pengajaran menggunakan bentuk penganjaran klasikal atau
group-oriented instruction yaitu menganggap semua siswa
sama-sama memperoleh pengajaran yang sama dan perbedaan yang ada
diantara mereka dianggap tidak penting.
Tujuan
pendidikan program reguler ini ditentukan oleh pihak luar.
Tujuan pendidikannya terbatas pada pengembangan kemampuan dan
minat tertentu, dengan harapan untuk mempersiapkan siswa dimasa
akan datang.
Kecemasan
Dalam Menghadapi Ujian Antara Siswa akselerasi dan Reguler
Dalam uraian sebelumnya telah disimpulkan bahwa kecemasan dalam
menghadapi ujian merupakan suatu manifestasi emosi yang bercampur
baur dan dialami oleh individu sebagai reaksi dalam menghadapi ujian
yang dapat mempengaruhi fisik dan psikisnya. Menurut Albin, rasa
cemas yang muncul biasanya ditandai dengan munculnya gejala fisik
maupun psikis, misalnya: rasa takut, khawatir terhadap kemampuan diri
dalam menjawab soal ujian.
Bagi sebagian dari siswa, ujian dianggap sebagai suatu hal yang sudah
selayaknya dilakukan, namun sebagian lagi menganggap ujian sebagai
suatu hal yang dirasakan sebagai paksaan dan dianggap sebagai situasi
yang mengancam, karena ujian merupakan suatu proses pemeriksaan
mengenai pengetahuan dan keahlian siswa sebagai akibat dari suatu
proses belajarnya selama menjalani pendidikan, sekaligus menjadi
tolok ukur bagi keberhasilan siswa dalam menempuh proses
pendidikannya selama ini.
Seperti yang dinyatakan oleh Shadily bahwa ujian merupakan suatu
pemeriksaan mengenai pengetahuan, keahlian atau kecerdasan seseorang
(siswa) untuk diperkenankan atau tidak dalam mengikuti pendidikan
tingkat tertentu.
Selanjutnya Sudjana menyatakan bahwa ujian merupakan hasil belajar
siswa yang merupakan akibat dari suatu proses belajar siswa selama
menjalani pendidikannya.
Sedangkan Mahmud menyatakan bahwa ujian merupakan suatu penilaian
yang dilakukan sebagai hasil dari suatu proses belajar mengajar.
Menurut Soejanto bahwa beragam reaksi emosional yang diperlihatkan
siswa dalam menghadapi ujian antara lain adalah rasa cemas.
Haditono menjelaskan bahwa kecemasan yang dirasakan siswa dalam
menghadapi ujian merupakan suatu reaksi emosi yang berhubungan dengan
situasi yang dianggap mengancam.
Bagi siswa program reguler, kecemasan tersebut bisa saja terjadi
karena adanya kekhawatiran, jikalau mereka tidak dapat menjawab
soal-soal ujian dengan baik, sehingga ada kemungkinan akan gagal
dalam ujian. Kegagalan dalam ujian dapat mengakibatkan siswa harus
mengulang lagi di kelas tersebut, sehingga ia tidak dapat mengikuti
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Sedangkan bagi siswa
program akselerasi, yang dianggap sebagai anak yang berbakat, selain
dituntut agar dapat menyelesaikan program pendidikannya lebih cepat
dari program reguler, siswa program akselerasi ini juga dianggap
sebagai siswa yang paling hebat dan paling pandai dibanding siswa
program reguler lainnya. Sebutan dan harapan yang tinggi dari
lingkungan itu menjadikan siswa program akselerasi mengalami tekanan.
Dengan masuknya seseorang sebagai siswa program akselerasi, sebutan
maupun harapan yang diberikan oleh masyarakat semakin tinggi kepada
mereka. Menurut Fawzia bahwa siswa akselerasi dinominasikan oleh
guru, teman-teman dan orang tua, sebagai anak yang paling hebat dan
paling pandai dibandingkan siswa reguler lainnya. Sebutan tersebut
membuat siswa akselerasi mengalami tekanan.
Hal ini didukung oleh pendapat Moeslow yang berpendapat bahwa siswa
akselerasi termasuk anak yang berbakat dan merupakan anak-anak yang
banyak mengalami tekanan dari lingkungannya.
Seperti yang diungkapkan Alim bahwa tekanan dari lingkungan tersebut
dikarenakan adanya harapan yang tinggi dari orang tua agar menjadi
anak yang sukses atau desakan masyarakat agar menjadi individu yang
bermanfaat di masyarakat, serta anggapan guru dan teman-teman agar
dapat berhasil dalam menentukan pilihan karier di kemudian hari.
Tekanan yang mereka rasakan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya
kecemasan.
Seperti yang diungkapkan oleh Atkinson bahwa ancaman
harga diri dan tekanan untuk melakukan sesuatu diluar kemampuan juga
dapat menimbulkan kecemasan dalam menghadapi ujian.
Sedangkan menurut Moeslow bahwa rasa cemas akan gagal berprestasi
merupakan ciri khas anak berbakat dan siswa akselerasi termasuk anak
berbakat yang banyak mengalami tekanan dari lingkungannya.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menghadapi
ujian, siswa program reguler mengalami kecemasan yang kebanyakan
disebabkan oleh faktor dari dalam dirinya karena kemampuan yang
dimilikinya. Sedangkan bagi siswa program akselerasi yang digolongkan
kepada anak yang berbakat, juga mempunyai rasa cemas gagal
mempertahankan prestasinya dikarenakan faktor tuntutan dari luar
dirinya agar ia menjadi seorang yang sukses, sehingga beban yang
harus dipikulnya akan lebih berat sebab tekanan yang ia rasakan
tersebut.
Diasumsikan bahwa siswa program akselerasi memiliki kecemasan yang
lebih tinggi dibandingkan siswa program reguler dalam menghadapi
ujian.
Hipotesis
Penelitian
Hipotesis adalah anggapan sementara terhadap rumusan masalah
penelitian. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah :
Hipotesis
Kerja (Ha)
Ada perbedaan yang signifikan antara kecemasan dalam mengadapi ujian
anatara siswa kelas akselerasi dan siswa kelas reguler di MTsN
Tanjung Tani Prambon Nganjuk.
Hipotesis
Nihil (Ho)
Tidak Ada perbedaan yang signifikan antara kecemasan dalam mengadapi
ujian anatara siswa kelas akselerasi dan siswa kelas reguler di MTsN
Tanjung Tani Prambon Nganjuk.
Metode
Penelitian
Metodologi dalam sebuah penelitan adalah merupakan hal yang sangat
penting keberadaannya, sering diistilahkan dengan pisau penelitian
karena begitu berpengaruhnya terhadap suatu hasil penelitian, dalam
metode penelitian yang menjadi pembahasan meliputi :
Jenis
Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu
pendekatan yang hasil penelitiannya disajikan dalam bentuk deskripsi
dengan menggunakan angka-angka statistik.
Jenis dari penelitian ini adalah komparasi, yaitu suatu penelitian
yang bertujuan untuk menemukan ada tidaknya perbedaan yang signifikan
antar variabel. Dalam variabel penelitian ini ada dua variabel yang
penulis kemukakan yakni :
Variabel bebas (x) adalah variabel yang diduga berpengaruh
terhadap keberadaan variabel terikat. Variabel bebas dalam
penelitian ini adalah “Siswa kelas akselerasi dengan siswa
kelas reguler”.
Variabel terikat (y) adalah variabel yang diharapkan tibul akibat
variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah
“kecemasan mengahadapi ujian”.
Dari variabel diatas yang menjadi bahan angket adalah tentang
kebiasaan belajar, adapun indicator-indikatornya sebagai berikut :
Reaksi
terhadap pengenalan akan adanya bahaya dari luar
Adanya
kemungkinan bahaya dari luar
Adanya
kemungkinan bahaya yang disangkanya akan terjadi
Kecemasan
akibat dari dorongan perasaan, rasa dosa
Kecemasan
yang berhubungan dengan gejala gangguan kekecewaan itu sendiri
Lokasi
Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian ini peneliti memilih lokasi penelitian
lembaga pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan
akselerasi dan reguler sekaligus yakni MTsN Tanjung Tani Prambon
Nganjuk.
Pengertian populasi menurut Sugiono adalah subyek atau obyek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian untuk ditarik kesimpulan.
Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas
VIII MTsN Tanjung Tani Prambon Nganjuk, yang berada di program
akselerasi dan reguler tahun pelajaran 2011-2012.
Menurut Suharsimi dalam bukunya Prosedur Penetian :
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti, Karena
dalam kegiatan penelitian untukmemetakan hal tersebut digunakan
teknik random sampling, yaitu suatu teknik penelitian sampel
dimana semua individu anggota ,yaitu salah satu teknik penelitian
sampel dimana sama dan independent dan untuk dipilih sebagai anggota
sampel.
Sedangkan untuk menentukan ukuran sampel, penelitian menggunakan
rumus Issac dan Michael sebagai berikut :
Keterangan :
S = Jumlah sampel
X2 = Siambil dari X2tabel untuk
tingkat kesalahan (a) 1% : 6,634891; untuk 5% : 3,841455 dan untuk
10% : 2,705541
N = Jumlah populasi
p = jumlah proporsi populasi; misalnya dari 1000 kali pelemparan koin
yang jatuh sebanyak 597, maka 597/1000. Akan tetapi kalau proporsi
tidak diketahui, maka digunakan angka 0,5.
q = 1 dikurangi nilai proporsi. Seandainya nilai proporsi 597/1000,
maka nilai q adalah 409/1000
d = kesalahan toleransi.
Untuk mempermudah dalam menentukan besarnya sample maka berikut ini
disajikan aplikasi dari rumus Issac dan Michael diatas ke dalam table
krecjie, seperti yang dikutip oleh sugiono dengan tingkat
kesalahan 5% sehingga sample yang diperoleh itu mempunyai derajat
kepercayaan 95% terhadap populasi.
Data
dan sumber data
Data dalam penelitian ini bersifat kualitatif dan juga kuantitatif.
Data berupa kualitatif misalnya berupa dokumen-dokumen gambaran umum
objek penelitian, sedangkan data bersifat kuantitatif adalah data
dari hasil interpretasi skor angket yang diisi oleh subjek
penelitian.
Sumber data bersifat primer karena data diperoleh langsung dari
subjek penelitian yakni pengelola lembaga pendidikan tersebut dan
juga siswa-siswi sebagai data utama dalam pengisian angket.
Metode
pengumpulan data
Banyak cara untuk pengumpulkan data penelitian, namun karena di sini
peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif maka hanya dipelukan
beberapa metode pengupulan data yang diperlukan dalam penelitian ini
yakni:
Metode Angket
Menurut Suharsini bahwa angket adalah pengumpulan
data melalui daftar pernyataan tertulis yang di susun dan di
sebarluaskan untuk mendapatkan informasi atau keterangan dari sumber
data.
Dalam metode angket ini peneliti menggunakan
angket langsung yaitu memberikan daftar pertanyaan langsung kepada
responden untuk memperoleh data yang di butuhkan, sehingga dapat di
ketahui pendapat atau sikap seseorang terhadap suatu masalah.
Metode dokumentasi
Yaitu "Metode yang di gunakan untuk mencari
data mengenai hal-hal atau vaiabel yang berupa
catatan agenda, buku dan sebagainya."
Dalam metode ini di gunakan penulis untuk memperoleh data umum objek
penelitian, misal tentang daftar pembimbing dan staf, daftar struktur
jumlah siswa yang ada, sarana dan prasarana
dan lain sebagainya.
Analis Data
Analisis data merupakan metode yang disebut juga dengan pengolahan
data. Analisis data merupakan proses menghubung-hubungkan dan
memisah-misahkan sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan. Pada
analisis statistic diharapkan hasil pengolahan data tersebut
terpercaya kredibilitasnya.
Analisis Data adalah "Suatu proses
penyederhanaan data dalam bentuk yang lebih mudah di baca dan di
interprestasikan."
Setelah data terkumpul, maka langkah berikutnya adalah menganalisa
data, untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang di
ajukan, sehingga dapat ditarik kesimpulan dari hasil-hasil
penelitian, dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Persiapan
Yang dilakukan dalam langkah persiapan dalah memilih data yang
sedemikian rupa sehingga banyak data yang terpakai dan yang
tertinggal. Langkah-langkahnya yakni :
Mengecek
nama dan identitas pengisi atau responden
Mengecek
kelengkapan data, memeriksa isi instrument pengumpulan data
Mengecek
macam isisan data. Jika dalam instrument termuat sebuah atau
beberapa item yang diisi “tidak tahu” atau isisan lain bukan
yang dikehendaki peneliti, padahal isisan yang diharapkan tersebut
merupakan variabel pokok, maka item ini perlu didrop.
Tabulasi
data
Menurut G.E.R Burroughs, mengemukakan klasifiksai analisis data
sebagai berikut :
Tabulasi
data (the tabulation of the data)
Penyimpulan
data (the summaring of the data)
Analisis
data untuk tujuan testing hipotesis
Analisis
data untuk tujuan penarikan kesimpulan.
Tabulasi data yaitu cara pemberian skor (scoring) terhadap jawaban
atas item-item pertanyaan yang terdapat pada angket sesuai dengan
pedoman scoring pada metode angket diatas. Termasuk dalam kegiatan
tabulasi data antara lain :
Memberikan
skor (Scoring) terhadap item-item yang perlu diberi skor
Memberikan
kode terhadap item-item yang tidak diberi skor
Mengubah
jenis data, disesuaikan atau dimodifikasikan dengan teknik analisi
yang akan digunakan.
Memberikan
kode (code) dalam hubungan dengan pengolahan data jika
menggunakan computer.
Uji validitas
Suatu data baru dapat dipergunakan dalam penelitian apabila telah
dinyatakan valid. Validitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh
mana suatu instrument betul-betul mengukur apa yang diukur. Uji
validitas digunakan dengan mengukur korelasi antar butir-butir
pertanyaan dengan skor pertanyaan secara keseluruhan. Jika terdapat
pertanyaan yang tidak valid harus dihapus atau diganti dengan
pertanyaan yang lain.
Uji
reliabelitas
Indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat
dipercaya. Instrument dikatakan reliable apabila instrument tersebut
konsisten dalam memberikan penilaian atas apa yang diukur.
Deskripsi
data
Uraian atau paparan tentang data-data yang dijadikan subyek kedaalam
penelitian serta temuan-temuan penting dari variabel yang diterliti,
meliputi mean, modus, median, standart deviasi dan varians.
Uji
normalitas data
Uji normalitas data dimaksudkan untuk menguji normal atau tidaknya
sampel penelitian. Selain itu juga digunakan untuk menentukan
statistic parametric atau statistic non parametric yang digunkan
untuk menguji hipotesis data.
Pengujian homogenitas ragam/ varians
Uji homogenitas digunakan untuk menguji apakah kedua data tersebut
homogen atau heterogen. Uji homogenitas varians dilakukan dengan cara
membandingkan kedua variansnya. Hal ini bisa dilakukan dengan dua
cara :
Varians
terbesar dibagi dengan varians terkecil
Varians
terkecil dibagi dengan varians terbesar
atau
Keterangan : F = Statistik Uji F
S12 = Varian terbesar
S22 = Varian terkecil
Uji
hipotesis komparatif
Setelah diketahui homogenitas variansnya,
selanjutnya yakni menentukan rumus yang
dipakai. Karena dalam penelitian ini
menggunakan dua sampel yang saling bebas dan tidak berkorelasi, maka
menggunkan rumus t-test untuk menguji hipotesis komparatif dua
sampel.
Rumus-rumus t test yang bisa digunakan
Rumus
pertama (Separated Varians)
Keterangan :
= rata rata kecemasan menghadapi ujian siwa akselerasi MTsN Tanjung
Tani Prambon Nganjuk
= rata rata kecemasan menghadapi ujian siswa reguler MTsN Tanjung
Tani Prambon Nganjuk
= Varians kecemasan menghadapi ujian siswa akselerasi MTsN Tanjung
Tani Prambon Nganjuk
= Varians kecemasan menghadapi ujian siswa reguler MTsN Tanjung Tani
Prambon Nganjuk
= Jumlah sampel siswa akselerasi MTsN Tanjung Tani Prambon Nganjuk
= Jumlah sampel siswa reguler MTsN Tanjung Tani Prambon Nganjuk
Rumus
kedua (Polled Varians)
Keterangan :
= Rata-rata kecemasan menghadapi ujian siswa akselerasi MTsN Tanjung
Tani Prambon Nganjuk
= Rata-rata kecemasan menghadapi ujian siswa reguler MTsN
Tanjung Tani Prambon Nganjuk
= Varians kecemasan menghadapi ujian siswa akselerasi MTsN Tanjung
Tani Prambon Nganjuk
= Varians kecemasan menghadapi ujian siswa reguler MTsN Tanjung Tani
Prambon Nganjuk
= Jumlah sampel siswa akselerasi MTsN Tanjung Tani Prambon Nganjuk
= Jumlah sampel siswa reguler MTsN Tanjung Tani Prambon Nganjuk
Menurut Ali Anwar berikut merupakan petunjuk untuk memilih
rumus-rumus t-test independent:
Bila jumlah anggota
sampel 1 dan 2 sama dan varian homogen, maka dapat menggunakan rumus
1 dan 2.
Bila jumlah anggota
sampel 1 dan 2 tidak sama, varian homogen naka dapat digunakan rumus
2. Besarnya dk adalah n1+n2-2
Bila jumlah anggota
sampel 1 dan 2 sama, varians tidak homogen maka dapat digunakan
rumus 1 dan 2. besarnya dk=n1-1 atau n2-2
Bila
jumlah anggota sampel 1 dan 2 tidak sama, varians tidak hoogen maka
dapat digunakan rumus 1. dk yang besarnya n1-1 atau n2-2,
dibagi 2 dan kemudianditambahkan harga t yang terkecil.
Outline Penelitian
Perbedaan
Kecemasan Menghadapi Ujian Antara Siswa Akselerasi Dan Reguler Di
MTsN Tanjung Tani Prambon Nganjuk
BAB I : PENDAHULUAN
Latar
belakang Masalah
Rumusan
Masalah
Tujuan
Penelitian
Kegunaan
Penelitian
Hipotesis
Penelitian
Asumsi
Penelitian
Penegasan
istilah
BAB II : LANDASAN TEORI
Kecemasan
Dalam Menghadapi Ujian
Pengertian
Kecemasan
Ciri-ciri
kecemasan
Dinamika
kecemasan
Macam-macam
kecemasan
Faktor-fator
penyebab timbulnya kecemasan
Ujian
sekolah
Kecemasan
menghadapi Ujian
Tinjauan
Akselerasi Dan Reguler
Akselerasi
Pengertian Akselerasi
Landasan Hukum Penyelenggaraan Akselerasi
Tujuan Pendidikan Akselerasi
Kurikulum Akselerasi
Syarat-syarat Pendidikan Akselerasi
Keuntungan Program Akselerasi
Kelemahan Program Akselerasi
Reguler
Pengertian
Reguler
Tujuan
Program Reguler
Karakteristik
Program Reguler
Perbedaan
Kecemasan Dalam Menghadapi Ujian Antara Siswa Akselerasi Dengan
Reguler.
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
Rancangan
Penelitian
Populasi
dan Sampel
Instrumen
Penelitian
Pengumpulan
Data
Analisis
Data
BAB IV : HASIL PENELITIAN
Gambaran
Umum Obyek Penelitian
Deskripsi
Data
Pengujian
Hipotesis
BAB V : PEMBAHASAN
BAB VI : PENUTUP
Kesimpulan
Saran
Footnote:
Daftar
Pustaka
Albin, Rochelle Semmel. Emosi (Bagaimana Mengenal, Menerima dan
Mengarahkannya). Yogyakarta:Kanisius,2003.
Anwar, Ali. Statistik
Untuk Penelitian Pendidikan Dan Aplikasinya Dengan SPSS dan Excel.
Kediri:IAIT,2009.
Arikunto, Suharsimi. Dasar-dasar
Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara, 2001.
---------.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta:Rineka Cipta, 2003.
Atkinson, Rita L. Pengantar Psikologi-jilid II.
Jakarta:Erlangga,1999.
Departemen Pendidikan Nasional, Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, 2003.
---------, Pedoman Penyelenggaraan Program Percepatan Belajar SD,
SMP, dan SMA-Suatu Model Pelayanan Pendidikan Bagi Peserta Didik Yang
Memiliki Potensi Kecerdasan dan Bakat Istimewa.
Jakarta:Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah,2003.
Furchan, Arif. ”Mengatasi Kecemasan Menghadapi Ujian”,
http://pendidikanislam.net,17 April 2009, diakses 24 Desember 2010.
Haditono, Siti Rahayu. Psikologi Perkembangan-Pengantar dalam
berbagai bagiannya. Yogyakarta:Gajah Mada University Press,2002.
Hajar, Ibnu. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif Dalam
Pendidikan. Jakarta:Raja Grafindo Persada,1999.
Hawadi, Reni Kabar (Ed). Akselerasi:A-Z Informasi Program
Percepatan Belajar Dan Anak Berbakat Intelektual.
Jakarta:Grasindo,2004..
Mahmud, M. Diniyati. Psikologi Pendidikan-Suatu Pendekatan
Terapan. Yogyakarta:BPFE, 1998.
Mudyahardjo, Redja. Pengantar Pendidikan-Sebuah Studi Awal tentang
Dasar-Dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia.
Jakarta :PT. Raja Grafindo Persada, 2002.
Muslim, Rusdi. Diagnosis Ganngguan Jiwa Rujukan Ringkas PPDGJ-III.
Jakarta:Departemen Kesehatan Republik Indonesia,2002.
Mutmainah, ”Hubungan Anatara Kecemasan Menghadapi Tes Dengan
Optimisme, Religiusitas, Dan Dukungan Sosial”, Tesis MA.
Yogyakarta:UGM,2005.
Nevid, Jeffrey S. Psikologi Abnormal, terj. Noermalasari
Fajar. Jakarta: Erlangga,2003.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No.4
Tahun 2010.Ujian Sekolah/ Madrasah Tahun Pelajaran 2009/2010
pasal 1 dan 2.
Santrock, John W.Perkembangan Masa Hidup.terj. Ahmad Chusairi
dan Juda Damanik. Jakarata: Erlangga,2002.
Shadily, Hassan.Ensiklopedi Indonesia-edisi khusus. Jakarta:PT
Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002.
Soejanto, Agus.Bimbingan Kearah Belajar yang Sukses.
Surabaya:Aksara Baru,1996.
Sringarimbun, Masri dan Sofyan Efendi. Metodologi
Penelitian Survey. Jakarta:
Pustaka,1990.
Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.
Bandung,:PT Remaja Rosdakarya, 2005.
Sugiono, Statistik UntukPenelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D.
Bandung:Alfabeta, 2009.